PENONTON KECEWA 

SAYA PIKIR bukan hanya saya. Anda dan banyak orang lain sepertinya juga kecewa. Sebagaimana layaknya penonton pertandingan Piala Dunia, gol yang diangan-angankan bersama itu tidak tercipta. Meleset jauh dari perkiraan semula. Tidak kena mengena dengan harapan bersama. 

Aug 28, 2026 - 13:46
Updated: 23 hours ago
0
PENONTON KECEWA 
Supriyono alias Botok adalah koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Sumber Foto: viva.co.id

SAYA PIKIR bukan hanya saya. Anda dan banyak orang lain sepertinya juga kecewa. Sebagaimana layaknya penonton pertandingan Piala Dunia, gol yang diangan-angankan bersama itu tidak tercipta. Meleset jauh dari perkiraan semula. Tidak kena mengena dengan harapan bersama. 

Begitulah bila kita menyaksikan perkembangan politik beberapa hari terakhir. Terutama terkait aksi demonstrasi massa 27 Agustus 2026, yang sebelumnya sudah digembar-gemborkan begitu rupa. 

Sebagai penonton di luar lapangan, kita menyaksikan semuanya dengan jantung yang berdebar-debar. Coba saja bayangkan, jauh hari sebelumnya persoalan ini sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. 

Diawali dengan datangnya para pentolan penggerak demonstrasi dari Pati, Jawa Tengah. Yang sepertinya begitu bersemangat mempersiapkan rencana aksi yang sudah matang. Tinggal menantikan kedatangan kawan-kawan mereka sesama calon demonstran dari kota kecil yang sempat “ngetop” karena kegigihan mereka. Ketika dulu menekan para anggota dewan dengan membangun kebersamaan yang luar biasa. Sampai kekuasaan mantan Bupati Sudewo, yang sebelumnya sulit didongkel, berhasil ditumbangkan. 

Dan kita saksikan, rombongan puluhan bis dari kota kecil itu datang. Disambut dengan semangat kemenangan yang tiada tara oleh sebagian warga Jakarta. Orang-orang yang selama ini sumpek pikirannya melihat beberapa kebijakan penguasa. Terutama terkait penanganan kasus korupsi yang menjadi momok kerusakan bangsa ini. Yang membuat kehidupan mereka dari kalangan rakyat kecil kian terpuruk. Dari waktu ke waktu. Sementara para elit berpesta pora memperlihatkan kehidupan mereka yang hedonistic. 

Lalu kita saksikan pula pemberitaan di berbagai jaringan sosial media. Meskipun tidak mendapatkan liputan langsung dari media-media mainstream konvensional, namun semua mata tertuju kepada pemberitaan soal aksi demonstrasi massa besar-besaran itu. Puluhan bus bukan hanya dari Pati. Tapi juga dari berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Yang mengangkut ribuan calon demonstran, yang akan membersamai rekan-rekan mereka yang dari Pati. Dalam rencana aksi yang sangat heroistik, demi kesejahteraan bersama. Karena itu, diperkirakan tidak kurang dari 2 juta massa demonstran akan terkonsentrasi di seputar gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, 27 Agustus lalu itu. 

Banyak yang khawatir bahwa aksi massa ini akan berujung rusuh. Dipenuhi aksi pengrusakan dan pembakaran. Bahkan bukan mustahil akan berdarah-darah. Sebagaimana aksi kerusuhan 1998, menjelang tumbangnya kekuasaan Orde Baru Soeharto. Soalnya situasi sosial politik dan ekonomi yang kita hadapi sekarang oleh beberapa pengamat dianggap sudah mirip detik-detik menjelang kerusahan Mei 1998 itu.

Bagaimanapun hal itu membuat takut sejumlah pihak. Sehingga para pemilik mall besar misalnya mencoba membangun pagar tinggi di sekitar gedungnya. Sebagai upaya mitigasi menghindari segala kemungkinan terburuk. 

Meskipun pembangunan pagar-pagar tinggi itu tidak berlanjut, alias dihentikan, namun banyak orang merasa yakin bahwa para pengusaha besar itu ketakutan. Karena bukan mustahil jika kerusuhan besar pecah, Jakarta bisa jadi lautan api yang penuh darah.

Tentu saja kita tidak setuju peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang mengerikan itu terulang kembali. Bukan saja karena kita tidak ingin kejadian-kejadian seperti itu akan mengakibatkan kerugian moril dan materil yang luar baisa, bahkan juga jiwa dan raga anak bangsa. Tapi juga karena kita tidak ingin bangsa ini akan terjerembab kembali ke dalam lubang keterpurukan secara sosial politik dan ekonomi yang lebih besar dan lebih dalam. 

Heroisme Masyarakat Pati

Kita tahu, jauh sebelum kedatangan para calon demonstran dari Pati itu, aksi-aksi massa yang menyampaikan sejumlah tuntutan telah dilakukan kalangan mahasiswa. Rombongan pengunjuk rasa yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI dan beberapa perguruan tinggi nasional lainnya sudah mulai memanasi jagad politik tanah air, khususnya di Jakarta. Karenanya nama-nama pentolan demonstran mahasiswa seperti Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra, mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan lain-lain sudah menjadi buah bibir banyak orang. Mereka dianggap sebagai para mahasiswa cerdas dan pemberani. Yang tanpa tedeng aling-aling dan blak-blakan mengkritik keras pemerintah, terkait kebijakan-kebijakan yang menurut mereka tidak pro-rakyat. Misalnya, dengan menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

Meski demikian, ketika para demonstran dari Pati berdatangan, nama-nama tokoh mahasiswa seperti tenggelam dari pemberitaan di dunia maya. Popularitas mereka seolah digantikan oleh Supriyono alias Botok. Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Meskipun dia dibarengi hanya oleh lebih kurang 200 anggota dan simpatisan AMPB, dengan menggunakan empat bus, namun pendukungnya dari banyak kota lain di Jawa dan Sumatera yang ikut datang untuk mendukung gerakannya mencapai jumlah ribuan orang. 

Dengan dua tuntutan utama: Agar DPR mensahkan berlakunya Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset Koruptor dan menetapkan ketentuan hukuman mati bagi para koruptor. 

Popularitas Mas Botok yang sebelumnya hanya mencuat di Pati ternyata selanjutnya mencelat sampai skala nasional. Apalagi ketika Bank Mandiri yang mengaku atas permintaan pihak keamanan memblokir rekeningnya pribadi. Yaitu rekening Rp 80 juta yang berisi duitnya pribadi plus uang donasi dari para pendukungnya. Sebuah keputusan yang merusak reputasi Bank Mandiri, sementara di pihak lain membuat popularitas Botok kian mencelat. 

Tadi pagi saya membaca sebuah catatan dari Susilo Cahyono, yang berjudul: “Pati, Tanah Para Pemberontak”. Dalam cacatan ini penulis menggambarkan betapa heroiknya masyarakat Pati. Yaitu masyarakat dari satu kabupaten kecil, yang mampu menjatuhkan satu bupati dan gaungnya tidak berhenti di batas kabupaten itu saja. 

Semangatnya menulari banyak masyarakat lain di seluruh Nusantara. Bahkan, penulis yang mengirimkan catatannya dari Doha, Qatar, menyatakan bahwa apa yang pernah digerakkan Mas Botok di Pati ternyata mampu menginspirasi kaum demonstran di Nepal. Sehingga pada September 2025, Perdana Menteri KP Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel juga mundur akibat gelombang demonstrasi besar oleh rakyat dan Gen Z. 

Tapi saya percaya, begitu tulis Susilo, keberanian Pati bukan barang baru. Ini bukan tumbuh dalam semalam, melainkan tertanam dalam tanah, empat abad lamanya. Bermula dari tahun 1600-an, Adipati Pragola melawan kekuasaan Mataram di ranah politik. Kiai Mutamakkin melawan kemapanan di ranah agama. Samin Surosentiko melawan penindasan di ranah ekonomi kolonial. Dan kini, di 2026, AMPB melawan ketidakadilan di ranah hukum dan tata kelola negara. Empat zaman, empat medan, satu benang merah. 

Begitu heroiknya para demonstran dari Pati, sehingga pihak keamanan sempat tergagap menghadapi mereka. Diblokirnya rekening Mas Botok oleh Bank Mandiri justru membuat namanya semakin moncer. Karenanya ketika pimpinan DPR bersedia menerima beberapa pentolan demonstran di dalam gedung sidang paripurna DPR, yang diizinkan masuk adalah Mas Botok dan rekan-rekannya dari Pati. 

Tuntutan mereka agar RUU Perampasan Aset dan Hukuman Mati para koruptor dicatat, walaupun dijanjikan baru akan disahkan 15 Desember nanti. 

Mas Botok dan rekan-rekan seolah sudah jadi pahlawan nasional yang telah memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Sayangnya, mereka lupa, mereka tidak sendiri. Keluar dari ruang sidang mereka memutuskan untuk langsung pulang kampung. Padahal keputusan yang diambil dalam ruang rapat DPR tidak boleh jadi milik mereka sendiri. Karena di luar gedung pertemuan itu ada banyak pendukung, ada ribuan driver ojol dan kaum demonstran lain  yang juga ingin suara mereka didengar. Yang karuan saja langsung marah, karena merasa dikhianati Mas Botok dkk. Seolah sumbangsih mereka dianggap tidak ada harganya. 

Begitu mudahnya aksi yang didukung jutaan orang berlalu begitu saja. Dalam kesunyian yang sepi. Seolah tak membawa hasil apa-apa.(*)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User