Aqua Dwipayana dan Seni Mengulang Kebaikan di Pentingsari

Kebanyakan orang datang ke sebuah tempat hanya untuk menghadiri acara. Tetapi ada yang datang membawa sesuatu yang lebih panjang umur daripada acara itu sendiri yaitu kenangan, silaturahmi, dan kebaikan.

Aug 27, 2026 - 05:42
0
Aqua Dwipayana dan Seni Mengulang Kebaikan di Pentingsari
Foto: Erwan Widyarto/CowasJP

Kebanyakan orang datang ke sebuah tempat hanya untuk menghadiri acara. Tetapi ada yang datang membawa sesuatu yang lebih panjang umur daripada acara itu sendiri yaitu kenangan, silaturahmi, dan kebaikan.

Dr. Aqua Dwipayana termasuk yang kedua.

Ketika kembali menginjakkan kaki di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta, Selasa (25/8/2026), Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional itu seolah sedang membuka kembali halaman lama yang pernah ditulisnya delapan tahun silam. 

Pada 11–12 Agustus 2018, ia pernah hadir di desa wisata tersebut dan berbagi kebaikan dengan cara yang khas. Mengajak 130 pensiunan  karyawan Jawa Pos yang tergabung dalam CowasJP (Konco Lawas Jawa Pos) menginap dan berkegiatan di Pentingsari lalu membagikan door prize, ribuan suvenir, hingga hadiah umrah.

Delapan tahun berlalu. Aqua kembali ke Pentingsari. Kali ini bukan sekadar membawa pesan, tetapi kembali meninggalkan jejak kebaikan. Kepada 30-an wartawan peserta Capacity Building Media yang digelar Bank Indonesia Sulawesi Tenggara (Sultra), ia menjanjikan hadiah pribadi bagi enam tulisan terbaik.

Bentuknya berbeda, tetapi pesannya sama: kebaikan tidak harus berhenti setelah sebuah pertemuan selesai.

Dalam kegiatan bertajuk “Merangkai Narasi Pembangunan Desa Wisata yang Inspiratif dan Berdampak Melalui Storytelling, Kolaborasi, dan Komunikasi”, Aqua berbicara tentang sesuatu yang sesungguhnya sangat dekat dengan dunia wartawan: manusia, kejujuran, dan hubungan antarmanusia.

Di hadapan puluhan jurnalis dari berbagai asosiasi –PWI, AJI, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI)—dan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kendari Edwin Permadi, ia mengingatkan bahwa kemampuan menulis dan berkomunikasi saja tidak cukup. Profesi wartawan membutuhkan soft skill, kemampuan membangun komunikasi, dan terutama integritas moral.

“Jadilah wartawan yang rendah hati, bukan rendah diri. Kita ini bukan siapa-siapa; wartawan itu terlihat hebat karena ada medianya. Kalau tidak ada media, nama besar itu bisa hilang,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti tamparan kecil di tengah dunia jurnalistik yang semakin gaduh. Ketika profesi kadang dipakai oleh oknum untuk mencari-cari kesalahan narasumber atau kepentingan pribadi, Aqua mengajak wartawan kembali kepada pekerjaan paling mendasar: menyampaikan fakta secara objektif dan menjaga kehormatan profesi.

Sebab, menurut dia, sekali kejujuran dikorbankan, yang rusak bukan hanya sebuah berita. Yang ikut dipertaruhkan adalah kepercayaan publik.

Namun, ada pesan lain yang membuat suasana pertemuan terasa lebih personal. Aqua berbicara tentang silaturahmi.

Ia membagikan pengalaman hidupnya tentang bagaimana hubungan dengan orang lain sebaiknya dibangun tanpa pamrih. Bukan karena membutuhkan sesuatu. Bukan pula karena sedang mencari keuntungan.

“Jalinlah silaturahmi tanpa pamflet atau hitung-hitungan. Kalau kita berniat karena kebaikan dan ibadah, hasilnya akan luar biasa. Jangan pernah melupakan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita, sekecil apa pun peran mereka,” kata pria yang disebut sebagai Master of Silaturahim ini.

Bagi Aqua, silaturahmi bukan sekadar datang, berjabat tangan, lalu berfoto. Silaturahmi adalah cara merawat ingatan tentang orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup.

Itulah sebabnya kunjungannya ke Pentingsari terasa seperti pengulangan yang bermakna. Delapan tahun lalu ia datang membawa hadiah. Kini ia kembali membawa energi yang sama: berbagi.

Ada yang menarik dari cara Aqua memandang kebaikan. Ia tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang harus selalu besar. Kadang cukup dengan menyapa. Kadang dengan menulis dan membagikannya. Kadang dengan datang menemui seseorang. Dan pada kesempatan kali ini, kebaikan itu diwujudkan dengan memberi apresiasi kepada wartawan yang menghasilkan karya terbaik.

Enam tulisan terbaik akan memperoleh hadiah uang tunai secara pribadi dari Aqua. Terbaik pertama Rp 1 juta, kedua Rp 750 ribu, ketiga Rp 500 ribu dan tiga pemenang harapan masing-masing Rp 250 ribu.

Bukan semata soal nilai hadiahnya, tetapi tentang pesan di baliknya: teruslah menulis, teruslah menghasilkan karya yang berkualitas, dan jangan kehilangan semangat untuk memberi manfaat kepada publik.

“Tulisan paling lambat diterbitkan seminggu setelah acara ini. Nanti kirim ke saya. Dan akan saya serahkan ke juri atau penilai yang sangat berpengalaman. Wartawan senior yang sangat kompeten, pengurus PWI Pusat dan berpengalaman dalam menilai karya jurnalistik,“ paparnya.

Di sela-sela pesan tentang profesi dan integritas itu, Aqua juga mengingatkan sesuatu yang sering justru terlupakan oleh mereka yang sibuk mengejar berita: keluarga. “Ada yang mengatakan bahwa hal terpenting adalah keluarga. Namun ada yang lebih penting, yaitu waktu bersama keluarga.”

Kalimat itu kemudian diarahkan kepada para wartawan. Jangan sampai kesibukan mencari berita, mengejar tenggat, menghadiri acara, dan membangun karier membuat keluarga hanya mendapat sisa waktu.

Pesannya sederhana: jangan melupakan keluarga.

Bukankah pada akhirnya, setelah berbagai berita selesai ditulis dan berbagai peristiwa berlalu, orang-orang terdekatlah yang tetap tinggal?

Mungkin itulah yang membuat kehadiran Aqua di Pentingsari kali ini lebih dari sekadar sebuah sesi capacity building. Ia seperti sedang mengingatkan bahwa menjadi wartawan yang baik bukan hanya soal bagaimana menemukan cerita orang lain, tetapi juga bagaimana menjalani cerita kehidupan sendiri dengan jujur, rendah hati, dan penuh kepedulian.

Dan di Pentingsari, Aqua kembali menunjukkan satu hal yang barangkali menjadi ciri paling kuat dari perjalanan hidupnya: kebaikan yang pernah ditanam tidak harus berhenti pada satu waktu. Ia bisa kembali, bertumbuh, dan menemukan bentuk baru.

Delapan tahun lalu, hadiah dan suvenir menjadi bahasa kebaikannya.

Kemarin, enam tulisan terbaik menjadi bentuk berikutnya.

Tetapi sesungguhnya, hadiah terbesar yang ia tinggalkan mungkin bukan uang atau suvenir. Melainkan pengingat bahwa dalam profesi apa pun—termasuk jurnalistik—manusia tetap membutuhkan tiga hal yang tak lekang oleh waktu: integritas, silaturahmi, dan waktu untuk orang-orang yang dicintai. (wan)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User