Bagian 1: Saat Dunia Bergeser, Bagaimana Perang Timur Tengah Mengubah Ekonomi, Investasi dan Masa Depan Kita
DARI megaproyek yang runtuh hingga harga energi yang melonjak: tanda perubahan zaman.
DARI megaproyek yang runtuh hingga harga energi yang melonjak: tanda perubahan zaman.
Apa hubungan perang di Timur Tengah dengan proyek kota masa depan di gurun pasir, harga bahan bakar di pom bensin, dan siapa yang menjadi mitra dagang negara kita? Semuanya saling terhubung, dan perang tahun 2026 ini mengubah semuanya sekaligus.
Konflik yang meletus pada Februari 2026 bukan sekadar pertikaian regional. Ia memicu efek domino yang dirasakan di setiap benua. Gangguan berulang di Selat Hormuz langsung mendorong harga minyak mentah melonjak di atas 120 dolar AS per barel (kurs Senin 17/8/2026 per dolar = Rp17.801). Rp2.136.120 per barel. Level tertinggi sejak krisis energi 2022. Harga normal atau rata-rata wajar minyak dunia biasanya berada di kisaran US$70 hingga US$85 per barel.
Tekanan biaya energi yang melonjak dirasakan secara merata. Negara maju menghadapi inflasi yang kembali meningkat, sementara negara berkembang justru terancam krisis neraca pembayaran akibat tagihan impor energi yang membengkak.
Di tengah situasi yang seharusnya menguntungkan negara pengekspor minyak seperti Arab Saudi, kenyataannya berjalan berbeda. Riyadh terpaksa mengalihkan lebih dari 15 miliar dolar AS dari anggaran pembangunan infrastruktur ke pos pengeluaran militer darurat, demi memperkuat pertahanan udara. Mengamankan fasilitas energi strategis, serta meningkatkan kesiapsiagaan perbatasan.
Akibatnya, Arab Saudi mencatatkan defisit anggaran triwulanan terbesar dalam sejarah negaranya. Ini sebuah sinyal peringatan bagi seluruh dunia bahwa kawasan penghasil energi terbesar dunia kini tidak hanya tidak stabil secara politik, tetapi juga tidak dapat lagi diandalkan sebagai sumber investasi jangka panjang yang aman.
Dampak paling nyata terlihat pada ambisi Visi 2030. Proyek NEOM dan The Line, kota linier masa depan sepanjang 170 kilometer tanpa mobil dan jalan raya.
Semula ditargetkan menampung 9 juta jiwa pada tahun 2030. Namun karena keterbatasan dana dan ketidakpastian geopolitik, proyek ini kini dipangkas secara drastis. Target penduduk diturunkan menjadi hanya 300 ribu jiwa, bahkan pembangunan dihentikan sementara hingga pasca-2030.
Proyek NEOM adalah megaproyek kota futuristik di barat laut Arab Saudi. Wilayah seluas 26.500 km² ini dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman guna mendukung strategi Saudi Vision 2030 untuk melepaskan ketergantungan ekonomi dari minyak.
Dari ratusan kilometer, yang baru dibangun fondasinya hanya sekitar 2,4 kilometer. Biaya proyek yang semula diperkirakan 1,6 triliun dolar AS kini membengkak mendekati 8,8 triliun dolar AS — angka yang tak lagi terjangkau di tengah tekanan anggaran negara.
Tak hanya itu, pembayaran kepada konsultan dan kontraktor Barat pun ditunda atau dibekukan secara sepihak demi menghemat kas negara. Banyak kontrak utama ditinjau ulang, ditunda, bahkan dibatalkan. Jika proyek senilai triliunan dolar bisa dipangkas secara drastis dalam waktu singkat, maka setiap investasi di kawasan berisiko tinggi kini harus ditinjau ulang secara ketat.
Modal dunia menjadi lebih berhati-hati, dan arus investasi global ke kawasan Timur Tengah diproyeksikan melambat tajam. Di tengah kekosongan itu, kekuatan baru mulai melangkah masuk, membawa tawaran yang berbeda, tanpa syarat berat, dan dengan kecepatan yang mengejutkan.
Bersambung ke Bagian 2: Kekuatan Baru Mengambil Alih — Dan di Mana Posisi Indonesia? (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)