Makna Kehadiran Ibu Hj Sinta Nuriyah dan Yenny Wahid di Sidang Tahunan MPR RI 

LANGKAH KECIL namun penuh makna kembali diayunkan oleh Hj. Yenny Wahid. Hari itu, ia tampil mendampingi Ibundanya, Hj. Sinta Nuriyah Wahid — Ibu Negara Republik Indonesia keempat, pendamping setia almarhum Presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). 

Aug 15, 2026 - 09:53
0
Makna Kehadiran Ibu Hj Sinta Nuriyah dan Yenny Wahid di Sidang Tahunan MPR RI 
Presiden Prabowo Subianto berbincang hangat dengan Ibu Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid. (FOTO: Dok. Keluarga Gus Dur)

LANGKAH KECIL namun penuh makna kembali diayunkan oleh Hj. Yenny Wahid. Hari itu, ia tampil mendampingi Ibundanya, Hj. Sinta Nuriyah Wahid — Ibu Negara Republik Indonesia keempat, pendamping setia almarhum Presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). 

Kehadiran dua sosok terhormat ini seketika menyita perhatian ruang sidang.

Kehadiran Hj. Ibu Sinta Nuriyah Wahid beserta putrinya, Hj. Yenny Wahid, disambut dan disapa dengan sangat ramah serta penuh penghormatan oleh para tokoh dan tamu negara yang hadir. Mulai dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta Ibu Negara, hingga mantan Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Jokowi, serta mantan Wakil Presiden RI, Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma'ruf Amin, dan mantan Wakil Presiden RI, H. Yusuf Kalla. 

Satu per satu menyapa, mengulurkan tangan, dan menyampaikan penghargaan yang tulus.

Kehangatan sapaan itu bukan sekadar protokoler kenegaraan. Di balik senyum dan salam itu, tersimpan penghormatan yang mendalam — penghormatan kepada almarhum Presiden Gus Dur, Bapak Bangsa yang selalu menghargai keberagaman, semangat keadilan, persatuan, dan kasih sayang kepada seluruh rakyat Indonesia.

Dari hadirnya di sana, Mbak Yenny, panggilan akrabnya, menyampaikan satu hal yang kembali terasa begitu penting dan menyentuh hati. Dari pidato Presiden yang didengarnya, ia menangkap satu pesan inti: bahwa kemajuan sebuah negara pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan rakyat. Bukan sekadar angka di atas kertas, bukan sekadar kemegahan pembangunan yang terlihat mata. Melainkan apakah rakyat benar-benar merasakannya? Apakah kehidupan mereka menjadi lebih baik?

Di tengah dunia yang semakin penuh ketidakpastian, Presiden menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan kemampuan Indonesia untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri. Dan inilah yang dirasakan Yenny Wahid sejalan dengan jiwa perjuangan almarhum ayahnya: bahwa pemerintahan yang kuat bukan hanya diukur dari besarnya angka pertumbuhan ekonomi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu membuka kesempatan seluas-luasnya, menciptakan lapangan pekerjaan, memperkuat daya beli rakyat, dan sungguh-sungguh membuat kehidupan setiap orang menjadi lebih baik.

Pesan itu terasa begitu dekat dengan hati Gus Dur yang selalu menempatkan rakyat kecil di urutan terdepan. Bahwa negara dibangun bukan untuk kemegahan penguasanya, melainkan untuk kebahagiaan seluruh rakyatnya. Bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata itu tujuannya satu: agar rakyat hidup sejahtera, adil, dan makmur.

Maka, tak berlebihan jika Yenny Wahid pun berharap tulus: "Semoga seluruh gagasan dan ikhtiar yang disampaikan hari ini benar-benar menemukan jalannya dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia." ujarnya. Agar tidak hanya menjadi kata-kata indah di atas mimbar sidang. Agar turun menjadi kenyataan yang dirasakan ibu yang memasak di dapur, anak sekolah yang mendapat ilmu, petani yang memanen hasil jerih payahnya, dan setiap orang yang bangun pagi dengan harapan hari esok lebih baik.

Di penghujung tulisannya, di usia ke-81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Yenny Wahid pun menegaskan satu kebenaran yang patut kita renungkan bersama:

"Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka bukan sekadar warisan sejarah, tetapi amanah untuk terus menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat," ucapnya.

Sederhana namun menembus ke dalam sanubari. Kemerdekaan yang diwarisi para pendahulu, termasuk Gus Dur yang berjuang sekuat tenaga demi rakyat, bukanlah harta peninggalan yang boleh kita nikmati begitu saja. Kemerdekaan adalah amanah. Amanah untuk terus berjuang agar keadilan dan kesejahteraan benar-benar terwujud untuk semua orang, tanpa terkecuali.

Kehadiran Ibu Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid hari itu, disapa ramah oleh para pemimpin bangsa dari berbagai generasi, adalah bukti nyata nilai-nilai luhur yang diperjuangkan Gus Dur tetap hidup. Tetap dihormati, dan tetap menjadi cahaya yang menuntun perjalanan bangsa. Selama nilai itu dijaga, selama keadilan dan kasih sayang diutamakan, Indonesia akan terus tegak bersatu, berdaulat, dan sejahtera. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User