Gus Kikin Terpilih di Balik Perubahan Jalan Demokrasi Santri
DI TENGAH riuh-rendahnya perubahan aturan main, ada satu hal yang tetap tenang, yaitu rasa syukur dan semangat persaudaraan yang disampaikan oleh KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) saat namanya dipanggil sebagai peraih suara terbanyak. Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031.
DI TENGAH riuh-rendahnya perubahan aturan main, ada satu hal yang tetap tenang, yaitu rasa syukur dan semangat persaudaraan yang disampaikan oleh KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) saat namanya dipanggil sebagai peraih suara terbanyak. Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031.
Bagi warga NU, momen ini bukan sekadar soal angka statistik, tapi juga merupakan cerminan jiwa organisasi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan hangatnya persatuan.
“Gembira” dan “berkah” —itulah kata-kata yang dipilih Gus Kikin menyikapi posisinya. Bukan nada kemenangan yang tinggi, melainkan nada rendah yang penuh harap.
BACA JUGA: Di Balik Pintu Tertutup: Mufakat KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031
“Ini tampaknya sudah lulus dari persyaratan, tinggal menunggu apa yang diputuskan AHWA... Kita tetap bergembira... guyub rukun, kebersamaan dapat ridha Allah SWT,” ujarnya dengan kerendahan hati khas santri Tebuireng.
BACA JUGA: Bursa Ketua Umum PBNU Mengerucut dan Isu Karantina Menggema Menjelang Muktamar
Kisah di balik kelima nama ini menyimpan perjalanan demokrasi yang berubah arah. Dari keinginan sebagian besar muktamarin —73 persen— terpilih jalan yang lebih mengandalkan kearifan kolektif para ulama melalui AHWA.
BACA JUGA: NU Abad Kedua: Buku 1.600 Halaman Lahir dari Kegelisahan Cinta Tanah Air
Ini bukan kemunduran, melainkan pilihan untuk menempatkan kepemimpinan NU di tangan pertimbangan mendalam, di luar hiruk-pikuk kompetisi biasa.
Ada kebijaksanaan dalam perubahan ini: menyerahkan lima nama yang telah dipercaya banyak orang kepada kearifan tertinggi, agar lahir keputusan yang bukan sekadar kuat secara prosedur, tetapi juga matang secara rohani.
Gus Kikin berdiri di urutan teratas bukan untuk menuntut, melainkan bersiap mengabdi.
“NU di posisi manapun diamanahi khidmah untuk masyarakat, umat, ciptakan kemaslahatan untuk umat,” ucapnya.
Maka, meski jalannya berbelok dari pemungutan suara langsung menuju pintu musyawarah AHWA, harapan tidak pernah putus. Kelima nama ini adalah cermin keberagaman yang telah disaring. Kini, tugas berat menanti para ulama: meramu keinginan mayoritas ini menjadi satu kesatuan kepemimpinan yang kokoh.
Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, suasana tidak tegang, melainkan berisi harapan. Karena seperti dikatakan Gus Kikin, yang terpenting bukan siapa yang terpilih, melainkan bahwa mereka yang berkumpul selama 3-4 hari ini telah memperkuat bekal kebersamaan untuk melayani umat. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)