NU Abad Kedua: Buku 1.600 Halaman Lahir dari Kegelisahan Cinta Tanah Air
DI TENGAH SEMARAK Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sebuah karya intelektual hebat diperkenalkan, di ISNU Talk. Yaitu buku bertajuk: "NU Abad Kedua: Menjaga Khittah, Optimis Menatap Masa Depan" karya Dr. Muhammad Nur Hayid, M.M., CSM.
DI TENGAH SEMARAK Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sebuah karya intelektual hebat diperkenalkan, di ISNU Talk. Yaitu buku bertajuk: "NU Abad Kedua: Menjaga Khittah, Optimis Menatap Masa Depan" karya Dr. Muhammad Nur Hayid, M.M., CSM.
Buku ini bukan sekadar tumpukan tulisan, melainkan buah dari kegelisahan mendalam, pengalaman panjang, dan cinta yang tulus terhadap organisasi ulama ini.
Dalam sesi bedah buku yang hangat dan penuh hikmat, Dr Muhammad Nur Hayid —yang juga menjabat sebagai Komisioner BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi— berbagi kisah. Buku hampir 1.600 halaman ini disusun dalam tiga jilid besar. Buku ini lahir dari keprihatinan melihat gejala perpecahan dan konflik internal yang sempat menggerus kohesivitas persaudaraan NU beberapa tahun belakangan.
BACA JUGA: Di Balik Pintu Tertutup: Mufakat KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031
"Mengapa organisasi yang didirikan ulama dengan hati tulus demi khidmat bisa terjadi pertengkaran sedemikian dahsyat? Pertanyaan itulah yang menjadi basis buku ini," ungkapnya dengan nada jujur.
Tiga Jilid, Satu Cita: Membangun Kekuatan dari Dalam
Penyusunan buku ini memakan waktu dua tahun perjuangan, dibantu oleh tim santri dan didukung teknologi kecerdasan buatan (AI). Dr. Muhammad Nur Hayid memetakan gagasan besarnya ke dalam tiga bagian utama:
Jilid I: Mengokohkan Persatuan & Roh Dakwah
Fokus utamanya adalah membangun kohesivitas ukhuwah. Struktur organisasi —dari PBNU hingga Ranting— harus menyatu, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia menekankan pentingnya mengembalikan roh asli NU sebagai organisasi dakwah keagamaan dan kemasyarakatan. Dakwah tidak boleh kaku; harus beradaptasi —menggabungkan panggung tradisional dengan kekuatan dakwah digital untuk menjangkau generasi milenial dan Alfa.
Selain itu, disoroti pula sinergi pendidikan yang utuh serta kemandirian ekonomi warga NU. Dengan potensi pasar sekitar 90–120 juta jiwa, NU tidak boleh hanya menjadi konsumen, melainkan harus memiliki kekuatan ekonomi berbasis komunitas.
Jilid II: Menjawab Tantangan Zaman dan Tata Kelola
Bagian ini mengupas strategi menghadapi persaingan, teknologi, dan kebutuhan dasar manusia. Mulai dari peran pesantren dalam menjaga peradaban dan NKRI, hingga urgensi pengembangan layanan kesehatan NU. Jika organisasi lain mampu hadir di tiap kota dengan rumah sakitnya sendiri, mengapa NU tidak?
Tak kalah penting, buku ini menyoroti modernisasi tata kelola: digitalisasi administrasi, pengelolaan data cerdas, dan komunikasi yang efektif antara ulama dan jamaah guna mencegah kesalahpahaman.
Jilid III: Kolaborasi dan Kiprah Global
NU tidak boleh terkurung dalam lingkaran sendiri. Jilid ketiga membahas kolaborasi strategis dengan negara, dunia usaha, dan peran aktif NU di panggung internasional. Dr. Muhammad Nur Hayid mengingatkan semangat Gus Dur: NU harus berani bersuara lantang melawan ketidakadilan di dunia, seperti di Palestina. Kader NU harus paham geopolitik, tidak hanya pintar secara lokal tapi juga berwawasan dunia.
Bukan untuk Pamer, tapi Mewariskan Cahaya
Dalam penyampaiannya yang rendah hati, penulis menyampaikan bahwa karya ini adalah "debu kecil" dari ribuan gagasan kader NU.
"Saya niatkan pertama untuk keluarga saya, agar anak-anak tahu perjuangan ayahnya. Kemudian untuk santri, agar mereka siap berperan di masyarakat tanpa tertinggal zaman," ujarnya.
Menyadari ukurannya yang raksasa, buku ini disiapkan dalam bentuk E-book agar mudah dibawa ke mana saja, selaras dengan semangat modernisasi yang dikandungnya. Meski demikian, edisi cetak berkualitas tinggi tetap tersedia bagi mereka yang menginginkannya.
Sebagai penutup, pesan mendalam beliau menggetarkan hati:
"Saya hanyalah warga biasa, santri desa yang mencoba merumuskan pengalaman. Yang terpenting: menjaga persatuan, tetap belajar, dan terus berinovasi.
NU Abad Kedua harus melangkah tegap, cerdas, dan bermanfaat bagi semesta."
Sebuah karya besar yang mengajak kita merenung: ke mana kita melangkah, dan bagaimana kita menjaga warisan luhur ini tetap relevan di tengah derasnya arus zaman. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)