Di Balik Pintu Tertutup: Mufakat KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031

DI RUANG keramat kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah, jauh dari sorotan lampu dan keramaian forum sidang, berlangsung satu momen paling sunyi namun paling berjiwa dalam Muktamar ke-35 NU. 

Aug 31, 2026 - 06:49
0
Di Balik Pintu Tertutup: Mufakat KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031
KH Miftachul Akhyar. (FOTO: Istimewa)

DI RUANG keramat kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah, jauh dari sorotan lampu dan keramaian forum sidang, berlangsung satu momen paling sunyi namun paling berjiwa dalam Muktamar ke-35 NU. 

Sembilan ulama —wakil dari seluruh penjuru persaudaraan NU-- berkumpul bukan untuk berdebat, melainkan untuk bermusyawarah demi satu tujuan: menjaga arah kiblat organisasi tetap tegak.
 
Hasilnya? Kepercayaan kembali diserahkan kepada KH Miftachul Akhyar untuk memimpin jajaran Syuriyah —jantung moral dan rujukan tertinggi hukum organisasi— selama lima tahun ke depan. 

BACA JUGA: Presiden Prabowo Dijadwalkan Tutup Forum Bersejarah di Tanah Lahir Tradisi Bahrul Ulum.

Ini bukan sekadar perpanjangan tugas, melainkan pengakuan tulus bahwa kearifan yang telah teruji masih dianggap paling dibutuhkan di tengah gelombang zaman yang terus berubah.
 
KH Anwar Iskandar, yang mengumumkan hasil mufakat tersebut, menyampaikan pesan mendalam tentang jalan yang ditempuh.

BACA JUGA: Menjaga Integritas di Tengah Gelombang Dinamika Organisasi 
 
“Musyawarah mufakat yang itu sesuai dengan perintah Al-Qur’an, wasyawirhum fil amr. Di samping itu sesuai dengan istilah Pancasila, yaitu hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,” ujarnya.
 
Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa di NU, pemilihan pemimpin bukanlah soal perhitungan angka semata. Ia adalah perpaduan harmonis antara nilai langit —perintah wahyu— dengan nilai bumi —hikmah demokrasi permusyawaratan khas bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Ulama NU Tidak Boleh Terbiasa dengan Hal-Hal yang Tertutup
 
Proses yang berjalan sekitar satu jam itu pun penuh penghormatan. Dipimpin oleh Kiai Miftachul selaku pejabat lama, didampingi arahan dari Kiai Nurul Huda Jazuli. Ada kelembutan dan kesinambungan di sana —seolah-olah napas sejarah NU tidak terputus, melainkan mengalir tenang mengikuti alur kebijaksanaan para pendahulu, sebagaimana yang pernah terjadi di Muktamar Lampung.
 
“Pemilihan ini sama dengan Muktamar di Lampung lalu, dipimpin Kiai Makruf Amin. Kali ini juga dipimpin Kiai Miftah sebagai mantan Rais Aam terdahulu,” ungkap Kiai Anwar.
 
Ketika pintu ruang musyawarah terbuka kembali, dibacakanlah nama yang disepakati. Bagi ribuan warga Nahdliyin, kabar ini adalah ketenangan hati. Artinya: sistem berjalan, kepercayaan terjaga, dan tradisi musyawarah —yang mengutamakan persatuan di atas segalanya— tetap hidup.
 
Langkah selanjutnya kini menanti: penentuan Ketua Umum. Namun satu hal yang pasti: di bawah arahan Rais Aam yang kembali terpilih, kapal besar Nahdlatul Ulama berlayar dengan kompas yang tetap terarah pada kebenaran persaudaraan. (Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User