Menjadi “Teman Bercerita” Aqua Dwipayana di Pentingsari

Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan ketika seseorang yang kompetensi dan kepakarannya  sebagai pembicara diakui, tiba-tiba mengajak kita berada dalam satu panggung dengannya.

Aug 27, 2026 - 05:46
0
Menjadi “Teman Bercerita” Aqua Dwipayana di Pentingsari
Foto: Erwan Widyarto/CowasJP

ADA rasa bahagia yang sulit dijelaskan ketika seseorang yang kompetensi dan kepakarannya  sebagai pembicara diakui, tiba-tiba mengajak kita berada dalam satu panggung dengannya.

Itulah yang saya rasakan ketika Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional, Dr. Aqua Dwipayana, mengajak saya menjadi salah satu pembicara dalam Capacity Building Media yang digelar Bank Indonesia Sulawesi Tenggara (Sultra) di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).

Pesertanya sekitar 30-an jurnalis dari Sulawesi Tenggara. Tema yang diusung menarik: “Merangkai Narasi Pembangunan Desa Wisata yang Inspiratif dan Berdampak Melalui Storytelling, Kolaborasi, dan Komunikasi.”

Saya tidak tahu persis apa yang ada di benak Mas Aqua ketika menunjuk saya sebagai narasumber yang menyertainya.  Ketika memperkenalkan saya, ia menyebut saya sebagai pendamping desa wisata sekaligus jurnalis senior. Karena itu, katanya, saya layak berbagi pengalaman kepada para wartawan yang sedang belajar menulis tentang desa wisata.

Terus terang, saya tersenyum mendengarnya.

Bukan karena merasa hebat. Justru sebaliknya. Ada rasa haru karena pengalaman yang selama ini saya jalani di desa dan kampung wisata ternyata dianggap cukup berarti untuk dibagikan kepada orang lain.

Memang, beberapa tahun terakhir, desa wisata seperti menjadi bagian dari keseharian saya.

Sebagai anggota Pokja Desa Wisata DIY, saya cukup sering masuk keluar desa dan kampung wisata. Beberapa hari sebelum acara di Pentingsari, sebagai Juri, saya baru saja menyelesaikan rangkaian penilaian lomba desa/kampung wisata tingkat DIY. Saya juga melakukan pendampingan di dua lokasi: Kampung Wisata Kasaningrat di Kota Yogyakarta dan Desa Wisata Tinalah di Kulonprogo.

Jadi, ketika harus berbicara di depan para wartawan tentang desa wisata, saya merasa seperti sedang bercerita tentang sesuatu yang memang saya temui sehari-hari.

Saya mengajak mereka memulai dari pertanyaan sederhana: kalau ingin menulis tentang desa wisata, sebenarnya apa yang menarik untuk ditulis?

Jawaban saya: carilah sesuatu yang menarik sekaligus penting.

Tetapi sebelum menemukan sesuatu yang menarik dan penting itu, wartawan perlu memahami lebih dulu apa sesungguhnya desa wisata.

Desa wisata adalah bentuk community based tourism, pariwisata berbasis masyarakat. Ini penting karena desa wisata memiliki karakter yang berbeda dengan destinasi yang dibangun oleh investor.

Desa wisata tidak semata-mata menjual bangunan, wahana, atau kemegahan fasilitas. Yang dijual adalah kehidupan masyarakat, potensi lokal, budaya, tradisi, kuliner, kerajinan, lingkungan, cerita, dan pengalaman.

Karena itu saya berpesan kepada para jurnalis: carilah USP—unique selling point—dari desa wisata yang akan ditulis.

Apa yang membuat desa itu berbeda dari desa wisata lainnya?

Bisa jadi tradisinya. Bisa kulinernya. Bisa cerita sejarahnya. Bisa produk UMKM-nya. Bisa kesenian yang hanya hidup di tempat itu. Atau bahkan cara masyarakat menjaga lingkungan dan menjalankan kehidupan sehari-hari.

Mengulik USP sesungguhnya bukan sekadar mencari bahan tulisan. Itu adalah upaya menemukan cerita yang menarik dan penting. Cerita yang tidak hanya membuat orang ingin datang, tetapi juga bisa menginspirasi desa wisata lainnya.

Saya juga mengingatkan satu hal yang menurut saya sangat penting: desa wisata bukan taman hiburan.

Pengembangan desa wisata bukan berarti membangun destinasi baru dengan taman bermain, wahana artifisial, atau atraksi mewah yang menghabiskan dana besar dari investor.

Yang dikembangkan adalah potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Potensi itu kemudian dikemas menjadi pengalaman.

Saya memberikan contoh Kasaningrat Nostalgieen, sebuah paket yang dikembangkan dalam pendampingan GIPI DIY bersama Dinas Pariwisata DIY.

Ada atraksi “Menjadi Bregada Rakyat.” Wisatawan tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan tentang sejarah Bregada. Mereka diajak mengenal alat musiknya, belajar cara memainkannya, belajar cara berjalan dalam barisan, kemudian mengenakan pakaian khas Bregada.

Setelah latihan singkat—dan setelah semuanya merasa sudah cukup mahir—mereka diajak melakukan pawai Bregada berkeliling kampung.

Di situ ada pengalaman. Ada interaksi. Ada cerita. Ada kenangan.

Begitu pula dengan paket “Makan Malam Bergaya Noni-Sinyo Zaman Hindia Belanda.”

Tamu tidak sekadar datang untuk makan. Mereka diminta mengenakan pakaian tempo dulu. Datang dengan suasana Hindia Belanda. Kemudian disambut lagu bernuansa Belanda dari Tante Lien. Mereka menyantap bestik Jawa, sementara alunan biola memainkan lagu-lagu Yogyakarta.

Makan malam yang sesungguhnya sederhana berubah menjadi pengalaman yang mungkin akan lama diingat.

Itulah desa wisata yang saya maksud.

Bukan soal seberapa mahal atraksinya, tetapi seberapa dalam pengalaman yang dibawa pulang oleh wisatawan.

Setelah paparan selesai, ternyata para wartawan cukup antusias. Banyak pertanyaan muncul. Namun karena waktu terbatas, hanya tiga orang yang mendapat kesempatan bertanya.

Pertanyaannya pun beragam. Ada yang sangat spesifik tentang pengembangan desa wisata. Ada pula yang bertanya bagaimana agar pengembangan pariwisata tidak mengorbankan lingkungan dan budaya.

Saya jawab satu per satu.

Dan seperti kebiasaan saya ketika berdiskusi, saya katakan: kalau masih ingin berdiskusi, silakan hubungi saya. Saya berikan nomor WhatsApp.

Lalu saya melakukan sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Saya membagikan buku Meluruskan Paradigma Pengelolaan Sampah Sekolah kepada tiga penanya tersebut.

Saya tersenyum dalam hati.

Ini langkah kecil saya “meniru” Mas Aqua.

Mengapa? Karena dalam pertemuan itu, Mas Aqua juga membagikan buku kepada peserta. Tiga judul: The Power of Silaturahim, Humanisme Silaturahim Menembus Batas, dan Produktif Sampai Mati.

Ada satu hal yang membuat saya merasa lebih dekat dengan buku ketiga. Produktif Sampai Mati adalah buku yang saya tulis dengan mengambil inspirasi dari sosok Aqua Dwipayana.

Maka hari itu terasa seperti sebuah lingkaran kecil yang lengkap.

Saya datang karena diajak Mas Aqua. Saya berbagi pengalaman tentang desa wisata kepada para wartawan. Saya kemudian membagikan buku. Sementara Mas Aqua, dengan caranya sendiri, juga berbagi buku dan energi kebaikan.

Barangkali memang begitulah cara kebaikan bekerja.

Ia tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang hanya sebuah ajakan.
Sebuah panggung.
Sebuah cerita.
Sebuah buku.

Atau sebuah nomor WhatsApp yang diberikan kepada orang yang baru saja kita kenal.

Tetapi dari hal-hal kecil itulah silaturahmi bisa tumbuh.

Dan dari Pentingsari hari itu, saya pulang dengan satu kebahagiaan sederhana: ternyata menjadi teman bercerita tentang desa wisata di hadapan para wartawan adalah juga bagian dari perjalanan panjang berbagi kebaikan.

Terima kasih, Mas Aqua, sudah mengajak saya.

Semoga cerita yang kami bagi hari itu tidak berhenti di Pentingsari.

Semoga ia ikut berjalan bersama para jurnalis pulang ke Sulawesi Tenggara—menjadi tulisan, menjadi inspirasi, dan barangkali suatu hari nanti kembali menjadi kebaikan di desa-desa wisata yang mereka ceritakan.(*)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User