Peci Lukis, Kenang-kenangan Terakhir dari Sang Maestro untuk Ganjar Pranowo
ADA janji yang baru ditepati, namun tak lagi saling bertegur sapa dan berbincang. Ganjar Pranowo akhirnya berkunjung ke kediaman maestro Nasirun di Bantul, namun untuk mengantar doa perpisahan selamanya. Sang maestro Nasirun meninggal dunia.
ADA janji yang baru ditepati, namun tak lagi saling bertegur sapa dan berbincang. Ganjar Pranowo akhirnya berkunjung ke kediaman maestro Nasirun di Bantul, namun untuk mengantar doa perpisahan selamanya. Sang maestro Nasirun meninggal dunia.
Di momen haru itu, keluarga almarhum menyampaikan sebuah benda penuh makna: peci buatan tangan terakhir sang pelukis (Almarhum Nasirun).
"Setelah sampai di Jogja, saya langsung menyempatkan takziah ke kediaman Mas Nasirun. Menepati janji saya untuk main ke rumahnya, meski kali ini hanya bisa berjumpa dengan keluarga," ujar Ganjar dengan nada haru, seperti dalam unggahanya di WA.
Sambutan keluarga tetap hangat. Di momen perpisahan ini, mereka menyerahkan sebuah kenang-kenangan sederhana, namun penuh makna: yaitu sebuah peci yang dilukis langsung oleh tangan almarhum.
"Terima kasih atas persahabatan selama ini, Mas. Mugi husnul khatimah," tulis Ganjar menyampaikan pesan hatinya.
Kepergian Yang Tak Terduga
Kabar duka menyentuh hati dunia seni Indonesia pada Sabtu 1 Agustus 2026. Pukul 05.50 WIB, Nasirun berpulang ke rahmatullah di usia 60 tahun, di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Kepergiannya begitu tiba-tiba, membuat siapa saja yang mengenalnya sulit percaya.

Padahal sehari sebelumnya, ia masih terlihat lincah menyapu halaman rumah di Perum Bayeman Permai, Jalan Wates. Ia juga sibuk menyiapkan materi untuk pameran besar yang seharusnya digelar di OHD Museum Magelang pada Oktober hingga November mendatang. Pameran itu kini harus dibatalkan.
Menurut Jumaldi Alfi Chaniago, sesama perupa sekaligus tetangga dekat, almarhum mulai mengeluh sesak napas tiga hari sebelumnya. Namun Nasirun tetap bersikeras beraktivitas seperti biasa, tak ingin merepotkan orang lain. Dini hari Sabtu pukul 02.00 WIB, kondisinya memburuk dan segera dilarikan ke rumah sakit. Empat jam kemudian, henti jantung merenggutnya selamanya.
"Dikira hanya sesak biasa, ternyata berat. Beliau punya riwayat pneumonia dan asam lambung, tapi tak pernah banyak mengeluh. Kepergiannya sungguh mengagetkan, tak ada firasat sedikit pun," kenang Alfi dengan mata berkaca-kaca.
Seniman Besar yang Tetap Rendah Hati
Nasirun dikenal bukan hanya karena karya lukisnya yang mendunia, dipajang di berbagai negara Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Utara. Ia lebih diingat sebagai sosok yang humoris, sederhana, dan tak pernah memandang derajat.
"Meski sudah maestro, Pak Nasirun tak segan datang meramaikan pameran kecil-kecilan kami. Dia dekat dengan siapa saja, dari pelukis pemula hingga pejabat negara," ungkap Alfi.
Inilah yang membuat persahabatannya dengan Ganjar Pranowo begitu hangat. Dua sosok dengan latar berbeda, namun terikat rasa hormat dan kesederhanaan. Janji Ganjar untuk berkunjung ke rumah Nasirun adalah bukti betapa ia menghargai persahabatan itu.
Sayangnya, takdir berkata lain: janji itu baru ditepati saat sang pelukis telah berbaring tenang di tempat peristirahatannya yang terakhir, Taman Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri.
Lebih dari Sekadar Lukisan
Kisah ini mengajarkan dua hal berharga. Pertama, waktu tak pernah menunggu siapa pun. Niat baik dan rencana pertemuan bisa berubah menjadi penyesalan jika ditunda. Kedua, kebesaran jiwa Nasirun terlihat jelas: kemasyhuran karya tak membuatnya lupa diri. Dan kunjungan Ganjar menunjukkan bahwa penghormatan kepada budaya dan sahabat tak boleh pudar, bahkan di tengah kesibukan.
Kepergian Nasirun meninggalkan kekosongan yang sulit digantikan. Namun, jejak lukisan dan kebaikan hatinya akan terus hidup, menginspirasi generasi pelukis selanjutnya.
Peci lukis yang kini disimpan Ganjar adalah simbol abadi. Ia mengingatkan kita untuk selalu menepati janji, menghargai orang terdekat selagi masih ada waktu, dan menjaga persaudaraan melebihi segala hal. Selamat jalan, Mas Nasirun. Karyamu abadi, namamu tetap harum. Selamat Jalan Mas Nasirun. Semoga husnul khotimah. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)