Trilogi Senapan (3), SENAPAN TUBUH (Peradaban Tubuh)

Sep 06, 2026 - 05:01
0
Trilogi Senapan (3), SENAPAN TUBUH (Peradaban Tubuh)
Goresan Saiful Hadjar. (FOTO: Istimewa)

SAMPAI sekarang RupaPuisi dimonopoli dunia sastra. Bisa dibenarkan puisi hanya ada pada sastra. Itu realitas tidak bisa dipungkiri, memang demikian adanya. 

Diperjelas dengan mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi disebut sebagai gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. 

BACA JUGA: Trilogi Senapan (2):  SENAPAN KATA  (Puisi Satu Kalimat)

Bicara tentang seni pada umumnya dengan unsur utama sebagai bahasa ungkap yang berbeda, apa yang dicapai oleh puisi bisa juga dicapai oleh jenis seni yang lainnya. Apakah puitis hanya sifatnya puisi - apa benar seni lain tidak bisa memiliki sifat puitis. Perlu kita ketahui yang dimaksud dengan puitis adalah memiliki sifat seperti halnya puisi. Imbuhan "tis" pada kata "puitis" memiliki arti "seperti" atau "seolah-olah." 

Lebih mudahnya sifat puitis tidak hanya puisi saja. Kita sering menemui puitis di luar puisi atau sastra: Menilai seseorang itu puitis tidak lain memiliki sifat seperti halnya puisi.

BACA JUGA: Trilogi Senapan (1). SENAPAN GRAFIS (Aksi Kebudayaan dan Poltik)

Sifat puisi (puitis) juga ada dalam dunia seni lainnya. Di antara jenis-jenis seni yang ada, misalnya mengambil contoh di dunia sketsa (seni murni) juga ada yang terkesan puitis. Sketsa dengan unsur utama garis, setiap torehan garis sketsa terdorong getaran jiwa telah menyatu dengan objek, dengan sendirinya menciptakan ruang imaji. Dengan demikian sketsa itu puitis atau seperti puisi liris. 

Maka dari itu RupaPuisi "Peradaban Tubuh" bukan monopoli dunia sastra. Mengingat semua seni adalah ruang imaji membedah gelombang persoalan kehidupan sedang menghantam.

RupaPuisi mencoba mempertemukan seni "seperti puisi" dengan "puisi" sendiri, yaitu puisi pendek dan sketsa seperti puisi. Dalam dunia sastra, puisi pendek bentuknya sangat sederhana dibanding dengan prosa. Begitu juga dengan sketsa juga bentuknya paling sederhana dibanding dengan jenis seni rupa lainnya.

Meskipun dengan kesederhanaannya itu, puisi dengan media kata dan sketsa dengan media garis juga punya perspektif tak kalah menarik dengan jenis seni lain. Masing-masing kesederhanaannya punya sayap, terbang sesuka hati di ruang angkasa seluas ruang imaji.

Bicara tentang imaji (image) dari sudut terminologi adalah imitasi (meniru). Sedang dalam semiologi imaji merupakan representasi analogis, yaitu persamaan atau persesuaian antara dua benda atau berlainan. Juga kepadanan antara bentuk bahasa (misalnya: kata dan garis) menjadi dasar terjadinya bentuk lain.

Membuat sesuatu yang baru dari mempertemukan puisi pendek dari dunia sastra dan sketsa dari dunia seni rupa dalam persesuaian atau kepadanan bahasa ungkap berbeda menjadi bentuk baru "RupaPuisi" berada di antara sastra dan seni rupa.

Kita paham kalau dunia imaji dibaca-tafsir secara berbeda oleh masing-masing individu. Meskipun demikian, multi tafsir ini tidak bersifat anarkis. Baca tafsir sebaliknya sangat menjunjung berbagai macam ilmu pengetahuan (entah pengetahuan praktis, nasionalis, kultural, religius, etika, estetika dan lain-lainnya) yang tertanam dalam imaji. Suatu pengetahuan yang dapat diklarifikasi dan membentuk suatu tipologi bahasa ungkap atau ekspresi menurut ciri strukturnya.

Bagian tersebut dalam ranah simbolik (pada bahasa) yang merumuskan dengan hal-hal praktis dan teknis. Hal inilah menjadi alasan kenapa baca-tafsir terhadap imaji bervariasi, begitu banyak terkoneksi dengan pemahaman tentang seni. Terjadi pluralitas dan keterkaitan beberapa leksikon bisa jadi ada atau mengedepankan satu objek yang sama berbentuk gaya bahasa personal yang khas.

Terjadinya multi tafsir dalam bahasa imaji bukan berarti ancaman terhadap keutuhan, karena bahasa yang terkandung dalam imaji sendiri terbentuk oleh gaya bahasa personal, leksikon dan sistem pemaknaan sampai menembus berlapis-lapis di kedalaman bahasa lubuk hati yang jelas. Serta membuka diri dengan berbagai kemungkinan dalam pemaknaan.

Bersedianya membuka diri mendapatkan berbagai kemungkinan dari seni dalam satu ruang imaji tentang tubuh di tengah perkembangan peradaban. Tentunya RupaSeni menciptakan integritas bahasa imaji atas dasar niatan dan berbagai pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. Menjadi ruang dialog imaji tubuh yang hidup dinamis dan inspiratif, yaitu peradaban tubuh sumbangsih terhadap pembangunan di sebuah rezim.

*** 

Semula berangkat dari iseng menggambar bentuk tubuh telanjang. Saya lakukan di tengah-tengah kesibukan, kerja, sarasehan, seminar, berkumpul sesama pencinta dan pekerja seni atau sedang sendiri di mana saja. Menggambar di kertas apapun setelah itu saya buang. Kalau dikumpulkan semua bisa dipastikan banyak dan sulit memeliharanya. Dari hal tersebut tiba-tiba ada keinginan membuat karya seni tetang tubuh dari sudut pandang tidak banyak disentuh para seniman.

Bagi saya tubuh sintal, montok dan ranum lebih tepat dinikmati dari pada diabadikan (digambar). Lain dengan tubuh yang ringkih, kerempeng, gembrot dan bentuknya sudah tidak beraturan lebih manarik. Juga tidak kalah jadi objek yang inspiratif dan imajinatif menyentuh banyak persoalan di segala aspek kehidupan. 

Dengan demikian bicara tentang berbagai bentuk tubuh telanjang tidak hanya berhenti sebatas memberi kesan negatif atau image (gambaran) porno.

Dari latihan gambar tubuh secara intens, dilakukan dengan setia dan cinta sampai di puncak kejenuhan menjadi kenikmatan tersendiri dari kegiatan menggambar tersebut. Selain itu jadi lebih paham tentang makna garis mencapai berbagai sudut pandang (posisi) objek - setiap garis yang lahir dari dorongan getaran jiwa merekam objek menjadi kesatuan dengan sendirinya menghadirkan ruang imaji. 

Semuanya merupakan daya untuk membentuk gambaran (imaji) secara tidak langsung adalah konsep-konsep mental didapat dari sensasi (penginderaan). Itu adalah aktivitas produktif yang mengintensifkan sebuah objek dengan cara tertentu. Menciptakan maknanya sendiri dari diri sendiri dengan kepandaian memanfaatkan imaji ke dalam tantangan kreatif menjadi karya seni.

Bertolak dari mendapatkan pemahaman di atas, beberapa gambar (tubuh) sempat tersimpan, sekitar 50 karya lebih saya angkat jadi karya sketsa grafis (teknik cukil jenis kayu atau cetak tinggi). Selain itu dengan sadar apa yang saya lakukan di tengah-tengah perkembangan seni grafis mengalami tantangan berat. Terutama menghadapi keberadaan atau perkembangan begitu pesat di dunia produk cetak reproduksi dan perkembangan seni rupa pada umumnya. 

Kenyataannya semakin lama semakin canggih secara teknik, sangat menarik secara rupa dan terjangkau harganya. Dengan sendirinya perhatian pada seni grafis (seni murni) semakin menurun. Maka dari itu persoalan tubuh dengan sentuhan seni grafis berkeinginan memberi keunggulan dan keunikan tersendiri dibanding dengan perkembangan dunia produk cetak reproduksi begitu hebat dan juga tak ingin ketinggalan dengan perkembangan seni rupa lainnya.

Begitu pula dengan puisi pendek tema tubuh juga dibuat dengan iseng yang intensitas terjaga dilakukan sejak tumbangnya Orba (Orde Baru) 1998. 

Menangkap persoalan tubuh berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan dalam keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Tidak lepas dari penangkapan panca indera disertai dengan pengalaman maupun pengetahuan. Dari penghayatan sebuah peristiwa dengan cara cermat atau teliti. 

Membangkitkan pemahaman tentang tubuh sesuatu yang berkait dan sifatnya komplek di tengah perkembangan peradaban sedang berjalan. Menggambarkan kepiawaian mengakrobatkan kata-kata dengan cara apa adanya atas pertimbangan pengalaman, pengetahuan dari lubuk hati yang dalam. Menjadi sebuah puisi, yaitu pilihan kosa kata membangun ruang imaji bersentuhan nilai-nilai estetika.

Berwujud jadi puisi imaji, menggambarkan atau imaji memberi suguhan langsung dengan bahasa yang lugas, tanpa kembangan-kembangan kosa kata yang mengaburkan gambaran hendak dibangun. Juga tidak banyak menunjukkan emosi, karena sudah mengikat di dalam atau menyimpan perasaan penciptaannya sedang tergiur dengan pesona atau suasana yang direkam. Dengan sendirinya perasaan atau emosi  yang dihadirkan, tertulis menjadi puisi liris. 

Karya puisi yang menghidupkan perasaan atau emosi antara pencipta dengan penikmat (pembaca) dalam sebuah ruang imaji ada di karya tersebut.

Lebih jauh puisi liris mengandung dua elemen, yaitu antara menyatakan perasaan yang samar-samar menyatu dengan objek tidak menutup kemungkinan tergelincir dalam puisi gelap. Puisi yang kehilangan kontak dengan pembaca - puisi menguap begitu saja sebelum habis dibaca. Maka dari itu menghadirkan puisi liris membutuhkan kecerdasan pencipta memainkan kosa kata, menghadirkan semiotik yang dapat mengikat pembaca bersama menciptakan ruang dialogis yang imajinatif, inspiratif dan unik.

Mempertemukan puisi pendek dengan sketsa grafis dibuat secara iseng atau coba-coba, jadi sebuah kebutuhan datangnya secara tiba-tiba, tanpa perencana yang matang dan secara spontan. Merupakan perjalan proses kreatif karya seni yang dibuat secara iseng menjadi perhatian serius. 

Makin lama makin terasa karya seni tentang tubuh tersebut terwujud, menggambarkan (imaji) seorang sedang bicara sendiri, dalam keterasingan dan merasa kesepian. Pembicaraan dalam batin di tengah-tengah dinamika problematik kehidupan yang komplek sedang bergejolak.

Seperti sebuah tubuh kehilangan kontak dengan tubuh-tubuh lain dalam sebuah sistem berinteraksi yang peduli dengan segala persoalan dalam perkembangan peradaban sedang kita hadapi bersama.

Lebih jauh perlu diketahui, bahwa puisi pendek dan sketsa grafis, kelihatan sangat sederhana dan tidak lengkap. Puisi pendek dengan unsur utama kata-kata dan sketsa grafis dengan unsur utama garis bukan berarti karya tidak selesai - tidak bisa disebut puisi kesimpulan atau sketsa bagan membutuhkan kelanjutan untuk disempurnakan. Dua karya seni tersebut bisa dikatakan sudah selesai dan menjadi karya mandiri. Artinya juga bisa jadi karya berdiri sendiri-sendiri tanpa keterkaitan.

Mengumpulkan puisi pendek dan sketsa grafis dengan satu tema - dalam satu ruang imaji dengan unsur utama berbeda (kata dan garis), memiliki daya ungkap dan cara berbeda perlu  kecermatan atau ketelitian. Menjadi karya dalam kesatuan memberi gambaran (imaji) seperti pertemuan antara tubuh-tubuh  (manusia) dalam satu pembahasan (ungkapan) berbekal pengalaman, pengetahuan dan penghayatan masing-masing setiap tubuh yang berbeda-beda. 

Meskipun terjadi perbedaan atau perselisihan bisa saling mengisi, melengkapi, mengontrol dan mengembangkan tema yang dibahas. Begitu juga dengan mempertemukan puisi pendek dan sketsa grafis bisa memberi perspektif lebih komplek. Tentunya menjadi pembahasan menarik tentang tubuh satu tema karya seni dalam satu ruang imaji (#seni_dsri), merupakan peran aktif tubuh dalam sebuah perkembangan peradaban sedang berlangsung pada zamannya. 

Maka dari itu dua karya seni tersebut bisa berdiri sendiri, ketika jadi kesatuan di pertemuan dalam satu ruang imaji, tentunya bisa saling melengkapi dan lebih menghidupkan ruang dialog imaji tersebut. Tanpa menghilangkan kemungkinan buruk dalam dunia seni dekat dengan permainan metafora, simbol, tanda dan sebagainya bisa menjadi alat penyebaran kebohongan, fitnah, adu domba dan sejenis. 

Tentunya dengan dunia seni pula bisa menjelma jadi ruang dialog imaji antara tubuh-tubuh tempat jiwa atau roh memerankan dan mempertanggung jawabkan dirinya sebagai manusia berfikir kebudayaan, selalu berproses mendekati kehidupan yang sempurna.

***

Bicara tentang tubuh telanjang dalam ruang imaji bisa menghadirkan pengetahuan sangat banyak dan inspiratif. Sementara pada umumnya dan sering kita ketahui bercerita tentang tubuh perempuan terutama. Tumpah pada pengagungan tubuh yang cantik, molek, sintal, berisi dan menebar birahi. 

Berhenti pada pengagungan tubuh berlebihan dan minim dengan sentuhan estetika.  Menjadi sebuah kenangan yang sempit terhadap tubuh punya peran penting yang aktif dalam setiap peradaban sepanjang zaman.

Memberi dan mendapat keluasan makna tubuh dalam ruang imajinasi tidak lepas dari akrobat, kepandaian atau petualangan manusia secara intens memainkan imajinasi ke dalam tantangan proses kreatif. Sebuah tantangan terkait dengan kemampuan berfikir atas pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki manusia tersebut. Menjadi sebuah karya seni yang dapat memberikan makna baru lebih luas pada tubuh selalu melekat dengan persoalan biologis atau libido, jorok, porno dan pelecehan.

Begitu juga dengan artistik merupakan kecanggihan manusia mengeksplorasi unsur-unsur seni dari bahan sampai teknik dalam mencapai bentuk karya seni (seni rupa, tari, teater, musik dan sastra) sarat nilai-nilai estetika mempunyai kandungan atau muatan pengalaman manusia terlibat aktif dalam dinamika realitas kehidupan zamannya. 

Pada dasarnya estetika merupakan pengalaman hidup disebut kebudayaan. Melakukan penawaran nilai-nilai baru, seperti yang disampaikan oleh Maxim Gorky, yaitu estetika adalah etika masa depan.

TIdak munafik pada setiap tubuh telanjang menimbulkan kesan gambaran minor. Bisa dikatakan setiap obyek tubuh bugil disebut porno. Meskipun demikian kita juga jangan mengingkari dengan obyek tersebut - di luar persoalan kebutuhan biologis atau libido tidak jarang terjadi keberkaitan dengan persoalan kehidupan lebih komplek.

Sebagaimana tubuh berperan aktif dalam sebuah sistem berinteraksi selalu terkait dengan berbagai aspek kehidupan dalam membangun peradaban di zamannya. 

Setiap tubuh sebagai dunia mikro punya peran saling mempengaruhi atau dipengaruhi tidak hanya terjebak pada persoalan-persoalan biologis atau libido. Juga bisa menjadi kokoh rapuhnya pilar-pilar kebudayaan mahluk berfikir atas berlangsungnya peradaban sepanjang zaman di bumi manusia. Menyimpan banyak persoalan saling berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, menjaga, memelihara, merusak atau membikin ruwet keberlangsungan tatanan kehidupan.

Begitu juga dengan tentang tubuh-tubuh telanjang bulat dalam karya puisi pendek dan sketsa (grafis cukil) di suatu ruang imaji peradaban sepanjang zaman. Terjadi sebuah perkawinan karya seni dalam satu ruang imaji nampak tidak lengkap dan kelihatan sangat sederhana. 

Meskipun demikian karya seni hibrida yang unik tersebut  tidak meninggalkan pemberian nuansa yang imajinatif, dinamis, ekspresif, dan inspiratif. Sebuah hasil bidikan objek tubuh di balik apa yang ditangkap lewat pengalaman dan pengetahuan manusia sebagai insan kreatif.

 Sementara pentingnya mengungkapkan di balik yang ditangkap, mengingat setiap persoalan dalam perkembangan peradaban tidak semua bisa dijawab atau diungkapkan dengan jelas, kecuali dengan imajinasi.

Perkawinan antara sastra dan seni rupa pernah dilakukan beberapa seniman sebelumnya. Terutama kita sering menemui lukisan dan lainnya disertai dengan puisi atau kata-kata indah. Biasanya mereka yang melakukan hal tersebut berkecimpung secara intens di dunia sastra dan seni rupa, seperti Asep Zamzam Noor, Made Wianta, Jeihan, Gendut Riyanto dan sebagainya. Tanpa menghilangkan rasa hormat untuk mereka telah memberikan banyak kontribusi dan memberikan makna dunia seni perpaduan antara seni rupa dan sastra, dengan sebutan "puisi rupa."

Begitu juga yang dilakukan penulis sekarang ini bisa disebut ikutan jejak para pendahulunya. Melakukan perkawinan antara puisi pendek dengan sketsa, keduanya tampil terkesan tidak lengkap mengungkapkan objek tubuh jadi karya seni dalam satu ruang imaji (#seni_dsri). Dengan perkawinan puisi pendek dan sketsa yang unsur utamanya berbeda tidak lain berkeinginan melahirkan ruang imaji yang memiliki perspektif artistik maupun estetika lebih jauh.

Puisi pendek dengan unsur utama adalah kata-kata, sedang sketsa dengan teknik cukil kayu atau cetak tinggi, unsur utamanya adalah garis (garis out line obyek). Melintasi permainan unsur kata maupun garis, juga merupakan pencerminan aktifitas jiwa berperan aktif secara intens dalam dinamika kehidupan dengan segala aspek tatanan kehidupan itu sendiri. Tanpa menghilangkan peranan setiap tubuh mengungkap segala keinginannya dengan berbagai cara dalam bentuk karya seni. 

Tidak lupa pula dunia seni tidak lepas dari kepandaian bermain semiotik, yaitu bermain metafora, simbol, tanda, analog dan segala sesuatu yang bisa membangun keluasan ruang imaji. Maka dari itu semuanya tergantung pada manusianya  menjadikan seni sebagai ajakan, anjuran, pendampingan, penyadaran, propaganda, provokasi dan sebagainya.

Meskipun seni bebas dijadikan alat untuk mencapai apapun, namun dalam perkawinan antara sastra dan sketsa dilakukan penulis, selain menghadirkan kepiawaian memainkan unsur-unsur seni sangat sederhana dan minimalis juga melibatkan perkembangan dan kecanggihan teknologi digital (desain grafis).

Menjadi sebuah buku kumpulan sketsa dan puisi pendek tentang tubuh, menjadi kesatuan yang utuh atau komplek dalam sebuah ruang imaji perkembangan peradaban tak bisa dibendung dengan apapun. 

Tanpa meninggalkan makna tubuh. Segala aktifitasnya tidak lepas dari rasa tanggung jawab terhadap jiwa atau rohnya sendiri bersama dengan tubuh-tubuh lainnya atas keberlangsungan tatanan kehidupan manusia beriringan dengan perkembangan peradaban di setiap zaman. (*)

Surabaya, 2022-2026
Saiful Hadjar, kelahiran Surabaya. Sering nimbrung di dunia sastra, seni rupa dan teater. Sampai sekarang aktif di Bengkel Muda Surabaya (BMS) dan penggagas Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User