Trilogi Senapan (2):  SENAPAN KATA  (Puisi Satu Kalimat)

Sep 03, 2026 - 05:47
0
Trilogi Senapan (2):  SENAPAN KATA  (Puisi Satu Kalimat)
Goresan Saiful Hadjar. (FOTO: Istimewa)

SATU. 
Hidup dalam dinamika politik gelap, jelas rasa resah selalu menyelimuti. Banyak tanya yang ditimbulkan dari setiap pemberitaan televisi, radio, media cetak, media online atau diberbagai jenis media sosial (medsos). Semua jawaban tak ada titik terang walaupun hanya setitik cahaya. 

Dalam situasi tersebut, yang terasa ada keterbukaan dunia informasi begitu hebat dan tak dapat dikendalikan. Sebuah perkembangan peradaban zaman serba blak-blakan. Setiap hari dihantam dicekoki narasi panjang, disertai foto, video, gambar dan sebagainya. Tidak  memberikan jeda untuk berfikir atau merenung.

Terjadilah tumpukan persoalan dari waktu ke waktu tak pernah terselesaikan - tak terelakan jadi arena perang statement, narasi, opini, press release, celometan dan sebagainya. Semua bergerak atas kemauan dan kepentingan setiap individu maupun kelompok, mengganggu kehidupan dunia literasi kita secara langsung maupun tidak langsung.

Sementara kehidupan kita dibayangi dengan pendapat, bahwa kita adalah bangsa besar, sangat kaya-raya dengan sumber daya alam maupun sumber daya manusia - negeri zamrud  katulistiwa, indah pemandangannya dan gemah ripah loh jinawi. Berbudaya tinggi, memiliki tatakrama, etika atau  sopan santun yang kuat.

Dengan latar belakang budaya tersebut tidak jarang pula terperangkap rasa ewuh pakewuh  menghadapi ketidakadilan yang dilakukan penguasa. Sehingga tidak banyak yang berani, serba tidak enak mengkritisi penguasa berbuat zalim. Mengingat setiap yang bernada kritik dari pandangan kritis terhadap penguasa tersebut dianggap atau dicap tidak berbudaya, tidak sopan, pengacau keamanan dan seterusnya. Seperti terjadi penghapusan atau pencekalan karya seni mural (lukisan dinding) oleh pemerintah dan pendukungnya di  Bangil - Pasuruan, Agustus 2021 jadi viral ( mural dengan tulisan: Dipaksa Sehat di Negeri Yang Sakit).

MENUNTUT KEADILAN 

Perlawanan tak akan berlalu
sebelum keadilan mudah didapatkan. 

#sastra_psk
puisi satu kalimat 

Penekanan rasa ewuh pakewuh dalam budaya tersebut sering pula dimanfaatkan sebagai retorika pembelaan terhadap penguasa yang menjauh dari kepentingan, keinginan, tuntutan atau kebutuhan rakyat pada umumnya. Sehingga menjadi sejenis pembodohan dan penipuan teroganisir dilakukan secara terang-terangan dan arogan oleh penguasa, disertai dengan berbagai apologi pembenaran menabrak konstitusi dan jadi teror.

Rakyat jadi apatis atau pesimis dalam lingkaran kehidupan serba gamang, tertekan dan gaduh. Berlangsung pembunuhan daya kritis di tengah  pandemi Covid-19 berdampak buruk terhadap perkembangan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, keagamaan dan sebagainya. Semua jadi korban ketidakadilan penguasa memihak pada pemilik modal besar di tengah pandemi sedang berlangsung, menakutkan dan meresahkan.

TRAGEDI PANDEMI 

Petugas Covid-19
petak umpat 
melipat kertas 
jadi burung-burungan 
pemakan bangkai.

#sastra_psk
puisi satu kalimat 

Dua.
Dalam situasi dan kondisi politik mengancam kedaulatan kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan ketajaman intuisi dari seorang penyair, hadir berperan aktif, dirinya sebagai mahkluk berpikir atas kesadaran sebagai pemimpin ada pada setiap diri manusia ikut serta bertanggung jawab menghadapi  berbagai persoalan datang bertubi-tubi sebelum menjadi lebih parah.

Diantara banyak persoalan yang sedang menimpa negeri ini, tentunya mengambil satu persoalan dianggap jadi sumber berbagai persoalan mengancam eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu adanya gejala mau ingin merubah falsafah dasar negara merdeka atas rahmat-Nya, menjadi negara sekuler dengan disertai memutus mata rantai sejarah perjuangan para pahlawan melawan kepentingan pemerintahan kolonial.

Hal tersebut semestinya tidak harus dilakukan atau terjadi selama masih mau mengakui berdirinya negeri ini tidak dari semangat sekuler, melainkan dengan semangat religi jadi negara merdeka.

KEMERDEKAAN NEGERI 

Kemerdekaan
rahmat jadi laknat
di tangan pengkhianat.

#sastra_psk
puisi satu kalimat 

Sebagai mana lazimnya seorang sastrawan, khususnya penyair ikut serta berperan aktif sebagai warga negara menghadapi banyak persoalan menimpa negera, seorang penulis salah satu senjatanya, menulis puisi. Menulis terdorong obsesi, tak bisa ditahan membuncah dalam dada, karena ada realitas menggangu tatanan kehidupan tersebut di atas. Secara umum, seni adalah ekspresi dari kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas (Leon Trotsky). 

Dengan demikian melalui proses mengejawantahkan diri untuk melahirkan puisi serta gagasan dari lubuk hati yang dalam. Peran serta penyair dalam hal ini dengan sendirinya memilih jenis dan bentuk puisi memberi sumbangsih pada khasanah dunia sastra. Pilihan seperti itu sudah tidak asing dalam dunia sastra, tidak heran lagi jenis-jenis puisi dalam perkembangan dunia sastra tak terhitung banyaknya.

Menginjak pada pilihan jenis dan bentuk puisi adalah otoritas setiap penyair, masing-masing punya alasan sendiri untuk menyemarakan dunia sastra yang tak pernah habis dikupas oleh masyarakatnya. Di dalamnya bertebaran nilai-nilai sastra dari para penyair menyetubuhi ruang batin keluar dari keterasingan realitas kehidupan yang memenjarakan dirinya.

Tiga.
Hidup di tengah-tengah di dunia informasi begitu gaduh, tak ubahnya seperti bunyi kaleng-kaleng kosong dalam dinamika politik negeri kita. Memilih menulis Puisi Satu Kalimat (PSK), tergolong jenis puisi pendek atau epigram berbentuk satu kalimat. Sebuah bangunan puisi satu kalimat satu titik.

Baik itu kalimat bertingkat, kalimat pendek dan elips (tidak sempurna), dengan berbagai macam tipografi, adalah  sebuah pilihan ekspresi seorang penyair -  lelah membaca informasi berseliweran begitu padat.

Jadi menulis PSK, tidak lain kepiawaian penyair bermain akrobat kosa kata, menghadirkan metafora, imajinatif, puitis, dinamis, inspiratif, dorongan intuisi yang muncul dari intensitas latihan memainkan kata-kata, sebuah bisikan hati mengejawantahkan pengalaman berfikir, merenung, dari keterlibatan langsung maupun bersifat partisipan pada peristiwa kehidupan sedang terusik di era zamannya.

Seperti yang pernah dilakukan sastrawan pendahulu kita, juga pernah menulis puisi pendek diantaranya: Ramadhan KH, Sitor  Situmorang, Mustofa Bisri, Sanusi Pane dan seterusnya.

Maka dari itu menulis  sastra PSK sejenis epigram yang  terikat dengan bentuk satu kalimat, juga terdorong oleh kekuatan intuisi setelah mendapat pengalaman melihat, membaca, merenung, berfikir dan terlibat langsung terhadap kejadian-kejadian yang menggangu dan meresahkan keberlangsungan berbagai aspek kehidupan  berbangsa dan bernegara, dikarenakan dari bunyi kaleng-kaleng kosong mendominasi perpolitikan punya akses ke pejabat elite penentu membuat kebijakan dan pelaksanaan mengelola negara - bermental makelar jauh dari kebutuhan dan keinginan rakyat kecil. 

Bertolak dari pemikiran tersebut, menulis PSK tidak untuk bersaing keras-kerasan bunyi dengan kaleng-kaleng kosong tersebut. Lebih tepatnya menulis PSK tidak lain membangun kesadaran diri di tengah persoalan kehidupan sedang terjadi menjadi sumber berita yang melelahkan, dihadapi dengan menulis puisi satu kalimat.

Selain itu menulis PSK bisa dikatakan karena ketidakmampuan melihat keganjilan-keganjilan realitas kehidupan terlalu lama berlarut-larut tanpa ada upaya mencari jalan keluar. Dengan sendirinya sebagai penyair tidak ingin kehilangan diri - bersamaan beriringan dengan realitas yang mengganggu tatanan kehidupan tersebut ada hasrat dengan segala kemampuan mengungkapan mimpi-mimpinya berupa akrobat kata-kata. Sebuah upaya membangun ruang imajinasi sarat makna, sebuah proses kreatifitas yang kritis dan dinamis. 

Menulis PSK yaitu jenis puisi pendek kesannya tidak lengkap. Meskipun demikian pilihan kosa kata dalam puisi itu didesain menghadirkan kalimat puitis menjadi ruang imajinasi yang subyektif - lahir dari memanage obsesi agar lebih arif dan bijaksana.

 PSK kesannya seperti pesan singkat bisa menjadi sebuah perlawanan, yaitu untuk melawan rasa lelah dan jenuh membaca dinamika realitas politik yang menjemukan dan tak jelas arahnya. Dengan sendirinya PSK tidak lain adalah bangunan ruang imajinasi sarat makna yang ada di balik peristiwa-peristiwa yang mengganggunya. Kesemuanya bertolak dari kesadaran setiap manusia adalah mahkluk sosial memiliki rasa tanggung jawab pada Sang Pencipta Alam semesta.

DOA PUISI

Gusti,
kalimat bersayap
jangan biarkan 
terbang tersesat.

#sastra_psk
puisi satu kalimat 

Sastra PSK bisa juga hadir menjadi sebuah sastra perenungan, pencerahan, narsis, katarsis, provokatif, picisan, dan juga bisa berkelanjutan jadi agen perubahan. Dengan demikian puisi satu kalimat bisa menyebar kemana-mana dan biarkan mendapat predikat apapun dari siapapun. Hidup dengan kwalitasnya yang berbeda-beda di atas kejujuran dengan pilihan kosa kata yang menusuk, sulit mentoleransi kebohongan, alasan palsu dan lemah. Lahir dari intensitas berfikir kritis, sistemis, analisis dan punya fakta. Tidak suka drama, basa-basi, langsung ke intinya.

Selain itu mudah dilakukan oleh  siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap integritas nilai-nilai kemanusiaan. Bergerak menyebar di setiap ruang publik yang ada dalam media sosial diera milenial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Threads, You Tube, Line, Telegram, WhatsApp, Hangouts, Blog, Website, Email, Tik Tok, Gmail, dan sebagainya. Dengan menawarkan estetika baru, yaitu etika masa depan selalu berkembang di atas kepentingan menjaga tatanan kehidupan untuk semua golongan yang beradab. (*)

Kampung Kaliasin, 2021-2026

Saiful Hadjar, lahir di Surabaya. Tinggal di kampung Kaliasin, Surabaya. Penggagas gerakan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) bersama teman-temanya Bengkel Muda Surabaya (BMS).

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User