Selamat Jalan Cak Sholeh: Pembela Wong Cilik yang Mengukir Jejak dengan Semboyan "No Viral No Justice"
KABAR DUKA kembali menyelimuti dunia hukum dan perjuangan keadilan di Jawa Timur. H. Muhammad Sholeh, S.H., atau yang akrab disapa Cak Sholeh, advokat yang dikenal seumur hidupnya membela kaum lemah alias wong cilik dan pendiri gerakan "No Viral No Justice", berpulang ke rahmatullah pada Jumat 7 Agustus 2026 pukul 03.30 WIB.
KABAR DUKA kembali menyelimuti dunia hukum dan perjuangan keadilan di Jawa Timur. H. Muhammad Sholeh, S.H., atau yang akrab disapa Cak Sholeh, advokat yang dikenal seumur hidupnya membela kaum lemah alias wong cilik dan pendiri gerakan "No Viral No Justice", berpulang ke rahmatullah pada Jumat 7 Agustus 2026 pukul 03.30 WIB.
Kabar kepergiannya pertama kali tersebar melalui pesan berantai yang dikonfirmasi dari keluarga besar almarhum. "Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia H. Muhammad Sholeh, S.H. (Advokat), Jumat 7 Agustus 2026 pukul 03.30 WIB."
Demikian bunyi pesan tersebut. Keluarga memohon doa keikhlasan serta permohonan maaf dari seluruh masyarakat atas segala khilaf almarhum semasa hidup.
Saya mengenal almarhum sejak tahun 1998, masa-masa bergemuruhnya badai reformasi. Saat itu saya baru pindah tugas dari Biro Jawa Pos Pamekasan ke kantor pusat di Karah Agung, Surabaya. Lantas ke Graha Pena Surabaya.
Sholeh waktu itu masih mahasiswa, kritis, dan tak pernah lelah bersuara menentang ketidakadilan rezim Orde Baru. Bersama kawan-kawannya di PRD (Partai Rakyat Demokratik). Seolah tiada hari tanpa turun ke jalan menuntut perubahan.
Perjalanan hidupnya terus berliku, namun tetap di jalur perjuangan. Setelah Orde Baru runtuh, PRD berubah menjadi partai politik, namun belum berhasil melangkah ke Senayan. Ia kemudian bergabung dengan PDIP dan pernah maju sebagai calon anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Hingga akhirnya, hati dan panggilan jiwanya membawa dirinya menjadi advokat — pembela bagi mereka yang tak punya suara.
Cak Sholeh adalah sosok yang tak pernah ragu berdiri di barisan paling depan untuk "wong cilik". Namanya kerap muncul saat menangani kasus-kasus yang menyentuh hati masyarakat: mulai dugaan malpraktik, sengketa pelayanan publik, hingga perkara yang menimpa kelompok rentan. Ia tak segan membawa persoalan yang sering diabaikan diangkat ke ruang sidang maupun sorotan publik.
Namanya kini abadi dengan semboyan yang ia lantangkan: "No Viral No Justice". Baginya, keadilan sering kali baru bisa ditegakkan jika ketidakadilan itu terlihat, didengar, dan diketahui banyak orang.
Melalui pendampingan hukum dan keberanian bersuara lewat media sosial, ia menjadi jembatan harapan bagi mereka yang terpinggirkan.
Rencananya, jenazah Cak Sholeh disemayamkan di rumah duka Jalan Lebak Rejo Utara II Nomor 49-51 Surabaya, sebelum kemudian dimakamkan di Ponpes Singa Putih, Prigen, Pasuruan. Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga belum merinci penyebab pasti kepergian beliau.
Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang terasa berat. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari rekan sejawat, klien yang pernah dibela, hingga warga biasa yang menghargai keberaniannya.
Selamat jalan, Cak Sholeh. Terima kasih telah berani menegakkan kebenaran, mendampingi yang lemah, dan mengajarkan kita bahwa diam di hadapan ketidakadilan adalah dosa. Semoga perjuanganmu diterima di sisi-Nya dan menjadi cahaya penerang bagi langkah kami yang tertinggal. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)