Prof Ali Masykur Musa Terpilih Jadi Nahkoda Thariqah Naqsabandiyah Dunia
BUKHARA bukan kota biasa. Kota bersejarah di Uzbekistan ini ibarat jantung Asia Tengah yang menyimpan jejak para wali, ilmu, dan kedamaian. Di sinilah Syech Bahauddin Naqshbandi menanam benih jalan spiritual yang kini tumbuh luas. Dan di sinilah, September 2026, delegasi dari 14 negara berkumpul menyatukan hati: satu jalan, satu amanah.
Para anggota delegasi menempuh perjalanan jauh dari berbagai benua. Mereka membawa harapan dan doa yang sama: memperkuat persaudaraan warisan para leluhur. Di Universitas Negeri Teknologi Bukhara, secara aklamasi Prof. Dr. KH Ali Masykur Musa, SH MH., M.Si., M.Hum. terpilih sebagai Ketua Majelis Naqshbandi se-Dunia.
Tidak ada sorak sorai, hanya keheningan bermakna, anggukan tulus, dan doa dari hati ke hati.
Beliau bukan sosok asing. Beliau adalah Ketua Umum JATMAN sekaligus Mantan Ketua Umum PP ISNU Pusat. JATMAN singkatan Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyah, yaitu badan otonom di bawah Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi wadah bagi para pengamal ajaran tarekat yang diakui sah (mu'tabarah). Puluhan tahun menjembatani dunia pesantren, akademik, birokrasi, dan parlemen.
Kini kepercayaan itu meluas, tidak hanya dari Indonesia, tetapi dari para ulama dan mursyid 14 negara. Sebuah amanah yang tidak diperebutkan, melainkan dipercayakan.
“Amanah ini bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan jalan pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ucap beliau dengan rendah hati. Di kota Syech Bahauddin Naqshbandi, kalimat sederhana itu terasa seperti pesan masa lalu yang hadir kembali hari ini.
Dunia semakin terhubung, namun hati semakin terpisah. Kita semakin cerdas, namun semakin gelisah. Pertemuan di Bukhara mengingatkan: manusia jangan mendambakan kemewahan, tapi mendambakan ketenangan hati. Kemajuan sejati adalah yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Piagam Bukhara bukan sekadar dokumen. Ia adalah janji: menjaga sanad keilmuan, menghidupkan dzikir, merawat ukhuwah tanpa batas negara, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat yang semakin terbelah.
“Dari Bukhara, kita tidak sekadar membawa pulang kenangan sejarah; kita membawa amanah untuk menjadikan warisan spiritual sebagai cahaya bagi persaudaraan dan kemanusiaan,” tegas beliau. Warisan para wali bukan peninggalan masa lalu, melainkan cahaya yang harus menyala hari ini untuk generasi mendatang.
Dahulu para mursyid berbulan-bulan menempuh perjalanan menyambungkan sanad. Kini jarak tak lagi penghalang. Namun yang tak boleh berubah: ketulusan berbagi ilmu, kesungguhan berdzikir, dan keikhlasan berkhidmat. Itulah mengapa pesan Bukhara tetap relevan, sepanjang masa.
Tantangan INC bukan membangun gedung tinggi, tapi menjadikan setiap hati yang tersentuh jalan ini lebih tenang, lebih baik, dan lebih bermanfaat. Pesan Bahauddin Naqshbandi tetap abadi: “Hatimu bersama Kekasih, tanganmu bekerja.” Hati tertuju kepada Allah, tangan tak henti berkhidmat kepada manusia. Itulah Naqshbandiyah, itulah amanah dari Bukhara. Cahaya itu kini berpindah tangan dari Bukhara ke seluruh dunia. (*)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)