Ketika Bencana Selaras dengan Perilaku Manusia

Sep 18, 2026 - 14:19
0
Ketika Bencana Selaras dengan Perilaku Manusia
Ketika gunung menyemburkan lidah apinya ke udara. (FOTO: dinsospppa.go.id)

ADA kebiasaan buruk yang pelan-pelan merayap dalam dada kita: menganggap bumi ini hanyalah sebongkah batu dingin yang tak berjiwa. Ketika perut bumi terbelah, ketika gunung menyemburkan lidah apinya ke udara, atau ketika ombak raksasa menggulung daratan, kita buru-buru berlindung di balik penjelasan yang dangkal. 

Kita menyebutnya sekadar angin lalu, sekadar gesekan lempeng tanah, atau anomali musim yang tak punya arti. Di sisi lain, ada pula jemari yang begitu cepat menunjuk wajah orang lain, menuding musibah itu sebagai pukulan azab yang ditujukan khusus untuk para pendosa, sambil lupa memeriksa lumpur hitam yang menempel di kaki sendiri. 

BACA JUGA: Menjajakan Kesucian di Pasar Kekuasaan

Kedua cara pandang ini sejatinya sama-sama buta. Keduanya gagal mendengar bisikan halus dari balik ketukan takdir yang sedang menyapa kita.

​Bumi tempat kita berpijak sejatinya adalah cermin raksasa yang tidak pernah tidur dalam diamnya, apalagi berbohong kepada Sang Pencipta. Ia menatap kita dengan jujur, merekam setiap langkah kaki, dan memantulkan kembali setiap warna dari tabiat manusia. Ketika kejujuran mulai langka, ketika kesombongan diarak di jalan-jalan kota, dan ketika jeritan orang lemah ditutupi oleh kebisingan rasa serakah, nafas bumi ikut menghebat dan memburu tanpa melihat apa dan siapa. 

BACA JUGA: NU Sedang Tidak Meneduhkan

Kitab suci telah memperingatkan bahwa retaknya kedamaian di darat dan di lautan adalah buah matang dari benih keretakan yang ditanam oleh jemari manusia sendiri. Musibah bukanlah tamparan tanpa alasan, melainkan pelukan keras dari alam yang sedang berusaha menyadarkan anak-anaknya yang sedang tertidur lelap dalam kelalaian.

​Merawat Pasak Bumi di Tengah Badai

​Namun, di tengah gelombang dosa dan kelalaian yang terus membanjiri bumi, mengapa langit tidak seketika runtuh menimpa kita? Mengapa bumi tidak menelan bulat-bulat peradaban yang makin hari makin congkak ini? Jawabannya berada di sudut-sudut sunyi yang kerap terlupakan. Di sana, ada jiwa-jiwa bening, bersih, suci yang terus mengetuk pintu langit tanpa lelah. Ada orang-orang alim yang menyebarkan sejuknya ilmu tanpa meminta balasan, ada hamba-hamba bersahaja yang merintih meminta ampun di sepertiga malam, dan ada doa-doa tulus dari rakyat kecil yang menyatu dengan embun pagi.

BACA JUGA: Menjaga Integritas di Tengah Gelombang Dinamika Organisasi  

​Merekalah pasak-pasak bumi yang sebenarnya. Kehadiran jiwa-jiwa suci ini laksana tiang penyangga yang menahan atap rumah agar tidak roboh menimpa penghuninya yang sedang lelap. Rintihan air mata seorang yang tulus di tengah kegelapan memiliki bobot yang sanggup menunda amarah alam semesta. Melalui keberadaan mereka, Allah menahan pukulan pemusnahan yang sangat mengerikan, lalu menggantinya dengan teguran-teguran kecil yang penuh kasih sayang. 

Bencana yang menyapa kita hari ini sejatinya adalah lambaian tangan dari Sang Pencipta, sebuah ketukan pintu yang keras agar kita sempat mengusap mata, membasuh wajah, dan pulang ke rumah ketundukan sebelum senja benar-benar berganti malam.

​Sejarah telah mengukir kisah indah tentang bagaimana orang-orang pilihan menyikapi guncangan alam. Ketika tanah Madinah bergetar di bawah kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab, beliau tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan di luar sana. Beliau mengetuk dada masyarakatnya sendiri, mengingatkan bahwa tanah yang mereka pijak sedang menangis karena langkah-langkah yang mulai menyimpang dari jalan lurus. Umar mengajarkan bahwa ketika bumi bergoyang, bangunan pertama yang harus diperbaiki bukanlah dinding-dinding rumah yang retak, melainkan keteguhan moral dan kejujuran dada kita sendiri.

​Begitu pula ketika angin bertiup kencang membawa kegelapan, Rasulullah SAW tidak pernah mengutuk angin yang melintas, apalagi menyalahkan. Beliau bergegas menuju tempat sujud, mengulurkan tangan membagikan sedekah, dan menyerukan kasih sayang kepada sesama. Mari kita petik pelajaran yang sangat dalam dari keteladanan ini: ketakutan kita akan ketidakpastian alam harus diubah menjadi energi kebaikan yang meluap-luap. Peringatan dari langit tidak dirancang untuk membuat kita saling curiga atau merasa paling suci, melainkan untuk melunakkan hati yang mulai membatu agar mau kembali merawat sesama yang terpuruk dan membutuhkan pertolongan.

​Memutus Rantai Kesombongan

​Maka, menyikapi bencana yang terus berulang membutuhkan keberanian untuk menanggalkan jubah kesombongan. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membuang jauh-jauh sikap merasa paling benar sendiri. Kita tidak boleh memandang saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan tatapan menghakimi. 

Bagi jiwa-jiwa yang beriman, bala' yang menimpa adalah basuhan air suci yang menghapuskan noda dosa dan mengangkat derajat mereka di sisi Tuhan. Sedangkan bagi kita yang selamat dan menyaksikan dari kejauhan, musibah itu adalah cermin bening yang memaksa kita bertanya pada diri sendiri: berapa banyak kerusakan yang telah kita perbuat yang turut membebani nafas bumi ini?

​Langkah selanjutnya adalah menyatukan kembali tali kasih sayang dengan alam semesta. Kita tidak bisa mengaku beriman jika jemari kita masih gemar merusak ranting-ranting kehidupan, meracuni aliran air, dan mengeruk perut bumi tanpa rasa iba. Merusak alam adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap keindahan yang telah dipercayakan kepada kita. Hati yang tertata dengan baik akan senantiasa memancarkan kehangatan, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada setiap helai daun dan setiap jengkal tanah yang disapanya. 

Menyembuhkan bumi harus dimulai dari menyembuhkan jiwa-jiwa yang telah lama kehilangan rasa dahaga akan kebenaran.

​Pada akhirnya, kita harus terus menjaga dan merawat tempat-tempat di mana doa-doa tulus dilantunkan. Di zaman yang semakin bising oleh perebutan takhta dan harta ini, kita sangat membutuhkan ketenangan dari jiwa-jiwa yang tidak dikenal di bumi namun sangat harum di langit. Istigfar yang mengalir dari bibir-bibir yang jujur, ketulusan para perawat kebaikan, dan kepasrahan anak-anak manusia yang merendahkan hati di hadapan Sang Maha Kuasa adalah benteng terkuat yang memelihara kehidupan kita. Tanpa kehadiran mereka, peradaban kita hanyalah bangunan megah dari pasir yang siap disapu oleh ombak pertama.

​Bencana alam yang selaras dengan perilaku manusia bukanlah tanda bahwa harapan telah mati. Ia adalah ajakan santun untuk melangkah kembali ke jalan asal, meninggalkan lorong-lorong gelap kesombongan menuju terang benderangnya kehendak Ilahi. Selama masih ada dahi yang bersujud dengan khusyuk di atas tanah, dan selama masih ada tangan yang terulur menolong sesama yang merintih, maka rahmat Allah akan senantiasa lebih luas dari jeritan bumi yang sedang terluka. Mari kita dengarkan bisikan alam ini dengan kerendahan hati, merapikan kembali pakaian iman kita, dan berjalan bersama merawat bumi dengan penuh cinta dan rasa hormat.

Sehingga keimanan kita lebih utuh dan tidak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat atas nama kebutuhan hidup. Rahman Allah mewujud menjadi lentiknya jemari kita dalam merawat alam di sekitar kita dan tidak merusaknya. Rahim Allah menjadi perilaku ke sesama manusia yang membutuhkan bukan menjadi kepentingan terselubung dalam membidik menusia lain yang ada dalam setiap silaturahmi.(*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User