KONTROVERSI ISLAM ALA PRABOWO
KALAU BICARA Islam ala Prabowo, apa yang terbersit di benak Anda? Pastinya, kita bicara tentang sebuah buku yang baru saja diterbitkan. Yang diluncurkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar dan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Noor Achmad. Dirilis pada 26 Agustus 2025 di Jakarta, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas.
Karuan saja penerbitan buku dengan judul yang memancing kontroversi ini viral di sejumlah platform media sosial. Pemberian judul “Islam ala Prabowo” tak dapat dibantah, diasosiasikan pada suatu pemahaman dan praktik Islam yang keluar dari fatsun umum yang dikenal selama ini. Seolah Islam yang dimaksud bukan sebagaimana Islam yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw. Tetapi Islam dengan konsep dan praktik yang baru sama sekali.
BACA JUGA: Menyelami Ayat Qur'an dalam Cerita Pendek
Pertama kali membaca judul berita tentang buku ini, saya tersentak. Karena buku ini konon diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani. Sahabat saya sejak kami masih sama-sama bujangan awal 1980-an. Ketika sama-sama bekerja di lingkungan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat dan Ikatan Masjid Indonesia (IKMI) di Jl. Kramat Raya 45 Jakarta. Saya di redaksi majalah Media Dakwah, Ketua MPR itu di redaksi majalah Suara Masjid. Kantor kami hanya dibatasi sebuah dinding.
BACA JUGA: MENS REA
Karena itulah yang membuat saya tersentak. Sebab saya mengenal Muzani – begitu saya dan kawan-kawan terbiasa menyapanya – adalah seorang tokoh yang lurus. Tidak neko-neko. Tidak pernah berpikir yang aneh-aneh. Sejak dulu dia terkesan pekerja keras. Kami lebih sering melihatnya tersenyum ketimbang bicara.
Walaupun selama 25 tahun terakhir paling tidak dia terlibat dalam kegiatan kepartaian di Gerindra, tapi hemat saya Muzani tetap memiliki cara berpikir orang DDII dan IKMI. Cara berpikir para orang tua mantan politisi Masyumi yang dulu sering ngumpul di Jl. Kramat Raya 45 Jakarta. Yang oleh orang luar dianggap radikal, intoleran dan tidak bisa “dibeli”.
BACA JUGA: PENONTON KECEWA
Karena itulah saya berpikir bahwa mantan Sekjen Partai Gerindra itu tidak akan terpengaruh oleh apa pun. Kalau pun ada keinginannya untuk menulis tentang Presiden Prabowo Subianto, tentunya wajar-wajar saja. Bagaimanapun sudah sejak awal berdirinya Gerindra dia sudah bersama Prabowo. Yang telah mengangkat tinggi-tinggi derajat dan kedudukannya. Dari seorang jurnalis media Islam yang biasa-biasa saja, menjadi petinggi partai. Bahkan sekarang menduduki jabatan sebagai Ketua MPR.
Berkenaan dengan semua itu, timbul pertanyaan di benak saya: Apakah Muzani sudah membaca buku yang memancing kontroversi ini? Jangan-jangan dia belum membacanya. Bisa jadi judulnya pun baru dia ketahui saat peluncuran. Disebabkan kesibukannya di partai dan sekarang di MPR. Boleh jadi tiga orang penulisnya – Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush`ab Muqoddas – pun hanya berpikir untuk membuat Muzani senang.
Menyulut Kontroversi
Bagaimanapun, buku ini telah menyulut kontroversi. Dengan judul “Islam ala Prabowo” memancing ingatan orang akan kontroversi “Islam Nusantara”. Diskursus yang memancing pro dan kontra. Ketika istilah ini secara resmi diperkenalkan dan dipopulerkan oleh ormas Islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU) pada 2015. Tepatnya menjelang Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur.
Kontroversi Islam Nusantara adalah perdebatan seputar istilah dan pemahaman mengenai praktik beragama Islam yang khas Indonesia. Yaitu suatu upaya memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal serta budaya setempat. Sementara mereka yang tidak bisa menerima istilah ini khawatir konsep ini mencampuradukkan ajaran Islam murni dengan budaya lokal. Menjadikan ajaran Islam diamalkan dalam konsep sinkretisme. Yaitu pencampuran ajaran Islam dengan tradisi Hindu-Buddha/animisme yang dianggap bid'ah atau menyimpang. Apalagi sejumlah tokoh yang mengusung konsep Islam Nusantara ini sering mencerca apa yang mereka sebut sebagai “Islam Arab”, yang mereka anggap tidak cocok dengan kehidupan umat Islam di Nusantara.
Diakui bahwa Islam Nusantara bukanlah agama atau aliran baru. Menurut mereka, ini adalah cara menjalankan ajaran Islam yang khas Nusantara. Yang ramah, toleran, moderat, dan akuratif terhadap budaya Nusantara. Tidak seperti apa yang mereka sebut sebagai “Islam Arab”. Yakni Islam yang diasosiasikan sebagai ajaran yang kaku dan penuh kekerasan. Menolak mentah-mentah praktik-praktik beragama yang mereka anggap bid’ah. Cenderung kepada praktik-praktik teror dan semacamnya.
Pemahaman banyak orang tentang Islam Nusantara tentu saja menuai pro-kontra yang serius. Para ulama di Sumatera Barat, misalnya, langsung menolak konsep Islam Nusantara ini. Mereka menganggap konsep ini tidak dibutuhkan di wilayah mereka. Karena di Minangkabau mereka sudah punya konsep tersendiri. Pandangan keislamanan mereka berpusat pada falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK). Yang berarti adat bersendikan hukum Islam, dan hukum Islam bersendikan Al-Qur'an.
Dalam hal ini mereka berpegang pada petuah: "Syarak mangato, adat mamakai". Falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang berarti syariat Islam memberikan hukum, sedangkan adat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kontroversi
Lalu bagaimana dengan “Islam ala Prabowo”? Menurut informasi dari penerbit, buku ini membahas kehidupan pribadi, karier militer, hingga gaya kepemimpinan Prabowo yang dihubungkan dengan nilai-nilai Islam. Istilah "Islam ala Prabowo" bukan berarti menciptakan mazhab atau ajaran Islam yang baru, melainkan cara melihat pengamalan nilai Islam dalam kepemimpinannya.
Di balik apresiasi sejumlah tokoh agama yang menyambut positif penggambaran nilai religius sang pemimpin, saya tetap pada keyakinan bahwa penggambaran di atas tidak elok. Pertama, pemberian judul sepertinya tidak dipikirkan secara matang. Hanya terdorong agar bisa viral. Kedua, penggambaran kehidupan spiritual Prabowo terkait pengamalan ajaran Islam tentu menimbulkan tanda tanya. Karena sejauh ini, tidak tergambarkan di mata publik bagaimana sang presiden mengamalkan ajaran Islam. Lalu bagaimana pula dia menjadikan ajaran Islam membentuk kepemimpinannya.
Dulu, meski banyak orang mencela keislaman Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi), namun setidaknya dia pernah memperlihatkan bahwa dia sholat. Bahkan menjadi imam. Lalu bagaimana dengan Prabowo? Apakah dia juga melaksanaan sholat? Ustadz Hilmi Firdausi bahkan menyentil dalam akun mendia sosialnya. Bahwa dia bahkan belum pernah sekalipun mendengar bacaan alfatihah Prabowo.
Ketiga, kepedulian Prabowo menyangkut agama Islam hanya karena faktor politik. Karena jumlah umat Islam di negeri ini terbesar di dunia. Dalam upaya merebut suara umat Islam pada Pilpres 2019, Prabowo bersama Amien Rais (waktu itu masih Ketua Dewan Kehormatan PAN) menemui Habib Rizieq Shihab di kediamannya di Mekah. Seusai menjalankan ibadah umroh.
Walaupun tidak ditemukan hasil pertemuan tertutup itu, namun banyak orang menduga tentunya untuk kepentingan politik Prabowo sendiri. Untuk menarik simpati umat Islam. Padahal ketika Habib Rizieq sudah kembali ke tanah air, diperkusi sedemikian rupa di bawah rejim Jokowi, adakah upaya Prabowo sebagai menteri pertahanan untuk melindunginya? Pertanyaan yang terus menganga di benak umat Islam sampai sekarang.
Keempat, bagaimana reaksi umat Islam ketika Prabowo secara terbuka menyatakan bahwa dia mengidolakan pemimpin Turki Mustafa Kemal Attaturk. Tokoh yang memporakporandakan pengamalan ajaran Islam di Turki. Melarang kaum wanita memakai hijab. Mengubah lafal azan dari bahasa Arab menjadi bahasa Turki. Mengubah bangunan bersejarah Hagia Sophia dari masjid menjadi museum pada tahun 1935. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku pemimpin Islam mengidolakan tokoh yang mengacak-acak Islam?
Kelima, umat Islam pun kecewa ketika Prabowo resmi menandatangani piagam Board of Peace (BoP) yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump. Yaitu Dewan Perdamaian yang melibatkan Israel tapi tanpa keikutsertaan Palestina. Sangat menyedihkan ketika jutaan umat Islam bahu membahu dengan deraian airmata mendukung kemerdekaan Palestina. Alih-alih menyatakan dukungan yang tegas kepada Palestina, Prabowo malah dianggap berusaha menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Lalu, apa yang dapat dibanggakan dari konsep “Islam ala Prabowo" ini. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)