Menyelami Ayat Qur'an dalam Cerita Pendek
WALAUPUN diyakini bahwa surah-surah pendek pada juz ke-30 dalam Alqur’an itu sangat penting, namun banyak umat Islam lalai mendalaminya.
Surah-surah pendek yang hanya dihafal sebagian. Yang benar-benar pendek saja. Karena lebih mudah menghafalnya. Di samping juga karena jadi bagian dari urut-urutan bacaan sholat. Menyusul bacaan surah Alfatihah.
BACA JUGA: MENS REA
Padahal surah-surah pendek itu adalah surah-surah Makkiyah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah. Sebelum Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah. Dengan surah-surah inilah Rasulullah Muhammad Saw. mengawali sejarah dakwahnya yang sangat sulit. Penuh halangan dan rintangan. Penuh penolakan dan pembangkangan, Bahkan cobaan hidup. Ketika mesti mengajak manusia – khususnya bangsa Arab Quraisy – untuk menyembah Allah Swt. Tuhan yang Maha Esa. Tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang setara dengannya.
BACA JUGA: PENONTON KECEWA
Surah-surah pendek yang jadi hafalan kita selanjutnya hanya dipandang biasa-biasa saja. Sehingga tidak banyak yang tertarik untuk mendalaminya. Tapi ketika diuraikan dengan cara berbeda, banyak hal yang dapat menggugah keimanan dan ketaqwaan kita.
Tepatnya sebagaimana dirangkum dalam sebuah buku karya Prof. Dr. H. Nadirshah Husen, LL.M, M.A. (Hons), Ph.D. Judulnya: “Ketika QUR’AN Jatuh di Hati HAMBA yang Merasa Biasa, Tafsir Naratif Inspiratif Juz ‘Amma”.
BACA JUGA: Sudah Merdeka tapi Belum
Tentu saja, ini bukan kitab tafsir, sebagaimana difahami banyak orang selama ini. Tidak seperti tafsir-tafsir klasik yang telah ditulis para ulama termasyhur dan terkemuka. Sebagaimana Tafsir al-Qur'an al-'Azhim karya Imam Ibnu Katsir; Tafsir Al-Jalalain karya dua ulama besar, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi; Tafsir At-Thabari (Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an) karya Imam Ibnu Jarir at-Thabari; Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an) karya Imam Al-Qurthubi dan Tafsir fi Dzilalil Qur’an karya Sayyid Qutub.
Tidak juga sebagaimana kitab-kitab tafsir modern versi Indonesia, seperti Tafsir Al-Azhar karya Allahyarham Buya Hamka atau Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Syihab. Yang menafsirkan ayat-ayat Alqur’an secara lengkap dan mendetail. Plus njelimet dari surah pertama sampai surah ke 114.
Metode yang Mudah
Meski demikian, Profesor Nadirshah Husen menafsirkan surah-surah pendek dalam juz ‘amma dengan cara berbeda. Karena Gus Nadir – begitu dia akrab disapa – mengejawantahkan ayat demi ayat tersebut dengan metode yang mudah difahami. Tidak saja mengajak orang untuk mendalami maksud dan makna ayat demi ayat. Tapi juga membumbuinya dengan cerita-cerita pendek yang menarik. Membuat banyak orang akan tergugah untuk mendalaminya. Terutama bagi kalangan generasi muda. Karena tergambar dalam mata rantai kehidupan sehari-hari.
Bagaimanapun, menafsirkan ayat-ayat Alqur’an itu tidak mudah. Seorang mufassir dituntut memiliki begitu banyak ilmu untuk bisa menafsirkan kitab suci yang mulia ini. Kitab yang diturunkan Allah melalui Malaikat Jibril secara langsung kepada Rasulullah Muhammad Saw. Ayat demi ayat. Dalam periode Mekah dan Madinah.
Menurut para ulama, seorang calon mufassir membutuhkan begitu banyak cabang ilmu. Di antaranya: Ilmu lughat (ilmu bahasa Arab), ilmu isytiqaq (ilmu asal-usul atau akar kata suatu istilah), ilmu balaghah (sastra Arab), ilmu Aqaid (agar penafsiran tidak bertentangan dengan aqidah Islam), Asbabun Nuzul (untuk mengetahui latar belakang atau sebab turunnya suatu ayat). Dan sejumlah ilmu lain yang tidak boleh tidak harus dimilikinya.
Sehubungan dengan itu, Indonesia pernah dihebohkan kritikus sastra Indonesia terkenal, H.B. Jassin. Ketika dia menafsirkan Alqur’an pada 1970-an. Tokoh yang dianggap Paus Sastra Indonesia ini dikecam banyak pihak, setelah kitab tafsirnya “Al-Qur'an Karim Bacaan Mulia” diterbitkan. Disusun dengan tata letak atau format yang mirip puisi, sehingga kitab ini disebut juga Alquran Berwajah Puisi.
Meskipun maksudnya untuk memperkenalkan ayat-ayat Alquran dengan menonjolkan keindahan kata, dengan gaya puitis, namun ia dikecam karena dianggap keluar dari kaidah penafsiran kitab suci Alquran. Dia dianggap tidak memiliki kompetensi atau penguasaan yang mendalam terhadap bahasa Arab klasik yang menjadi dasar teks Alquran. Karenanya Majelis Ulama Indonesia dan Departemen Agama mengambil sikap tegas. Mengecam keras. Dan menyerukan agar kitab itu tidak disebarkan ke tengah umat. Untuk menghindari kemungkinan salah penafsiran.
Lalu bagaimana dengan karya Gus Nadir yang baru saja diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka ini? Yang jelas, Gus Nadir menghidangkan ayat demi ayat di juz ke-30 itu apa adanya. Nggak “neko-neko”. Sehingga pembaca tidak perlu mikir terlalu ruwet. Sebaliknya ia menyajikannya dengan kalimat-kalimat yang elok dan indah. Dilengkapi dengan cerita-cerita pendek yang membuat paparannya jadi menarik. Membuat pembaca faham isi dan maksud ayat. Sekaligus tidak mudah melupakannya, karena disajikan dengan cerita-cerita yang penuh hikmah.
Alquran juz ke-30 sebagai kumpulan dari surah-surah yang diturunkan pada periode awal sejarah dakwah Rasul, tentunya dimaksudkan untuk mengajak kaum Quraisy Mekah agar menyembah Allah. Dalam konteks tauhid. Sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Meninggalkan penyembahan berhala dan berbagai perbuatan syirik lainnya. Karenanya surah-surah tersebut diturunkan dengan fokus utama pada tauhid, hari kiamat, dan kekuasaan Allah.
Banyak cerita menarik yang dituliskan Gus Nadir terkait surah-surah pendek itu. Dalam membahas surah An-Naba’, terkait hari kiamat, misalnya, dia menulis: “Malam sunyi di kota Melbourne turun perlahan, menutup hiruk-pikuk siang yang baru saja berakhir. Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya lampu jalan, sedangkan angin musim dingin menampilkan aroma hujan yang tertinggal di jalanan basah.” (Sebuah penggambaran yang sangat menyentuh nurani).
Dengan sub judul: Kabar dari Langit di Atas Tanah Asing, Gus Nadir bercerita tentang Zaid, seorang akademisi diaspora yang mumpuni di negeri asing Australia. Namanya sering disebut dalam publikasi internasional, sering tampil dalam konferensi bergengsi dan memiliki jaringan luas lintas negara. Meski demikian, dirinya tetap merasa kosong.
Ketika suatu malam dia mendengar seorang remaja melantunkan ayat-ayat dari Surah An-Naba’ dengan suara merdu, Zaid tersentak. An-Naba’ al Adzim adalah cerita tentang Hari Kebangkitan Yang Agung. Yang oleh orang-orang besar dan termasyhur cenderung dianggap sepele. Seolah Gus Nadir bercerita tentang dirinya sendiri. Seorang professor guru besar yang mumpuni di tanah asing Australia. Yang tergagap mengarungi makna surah An-Naba’ yang jarang tersentuh jiwa dan qalbunya. Lupa akan kewajiban membangkitkan dirinya sendiri di tengah badai kesibukan duniawi.
“Sudah berapa lama kau menunda kebangkitan dirimu sendiri, wahai Zaid?” Pertanyaan yang seolah mesti dijawab Gus Nadir sendiri.
Sebuah buku yang menggugah jiwa, menarik hati untuk lebih mendekat kepada-Nya. Perlu anda baca!(*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)