Jangan Panggil Saudara jika di Lapangan Ditinggalkan

Sep 05, 2026 - 19:57
0
Jangan Panggil Saudara jika di Lapangan Ditinggalkan
Ketua PW GP Ansor Jatim H. Musaffa Safril. (FOTO: Dok. COWAS JP)

ADA perasaan getir yang menyelinap di hati para kader Nahdliyin yang mengabdi di pelosok desa. Di satu sisi, mereka mendengar panggilan hangat: “Kami adalah Partai Anak Nahdliyin”. Namun di sisi lain, realitas yang mereka rasakan justru terasa jauh dari kehangatan persaudaraan.
 
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Musaffa Safril, menyuarakan keresahan yang bukan sekadar teori politik, tapi benar-benar cerminan jeritan hati kader di lapangan. Bayangkan seseorang yang sudah lama bekerja lelah mendampingi masyarakat: mengurus desa, mendampingi petani, merancang program pemberdayaan, hingga turun saat bencana datang. Namun tiba-tiba, tanpa penjelasan yang memadai, tugasnya dipindahkan ke tempat yang jauh. Tanpa alasan, tanpa evaluasi yang terang benderang.
 
“Jangan biarkan kader yang sudah lama mengabdi merasa tiba-tiba dipindahkan tanpa penjelasan yang terang,” ujar Musaffa mewakili perasaan mereka.
 
Ini adalah kisah tentang harapan yang bertabrakan dengan kecurigaan. Ketika kementerian yang mengurusi desa justru dipimpin oleh tokoh partai yang mengaku “saudara”, para pendamping desa berharap keadilan menjadi prioritas utama. Namun keluhan yang masuk menceritakan hal yang berbeda. Ada rasa takut bahwa kebijakan birokrasi digunakan untuk “menghukum” yang dianggap tidak sejalan, dan “menghadiahi” bagi yang dekat secara politik.
 
“Kalau di panggung mengatakan merangkul Nahdliyin, tetapi di lapangan kader-kader muda NU justru merasa dipinggirkan, lalu apa yang sebenarnya dirangkul?” tanyanya.
 
Bagi ribuan kader muda NU yang tersebar di Jawa Timur dan sekitarnya, identitas mereka bukanlah sekadar label untuk dipajang saat kampanye. Mereka adalah manusia yang bekerja dengan ketulusan. Mereka mengabdikan waktu, tenaga, dan pikiran bukan demi partai politik, melainkan demi rakyat.
 
“Kader muda NU bukan properti politik. Mereka adalah warga negara yang bekerja dan mengabdi,” tegas Musaffa.
 
Lebih menyayat hati, ketika kedekatan simbolis terjadi di panggung politik —seperti kehadiran partai di Muktamar NU— rasa persaudaraan itu terasa hangat. Namun ketika turun ke bumi, kader yang bekerja justru merasa seperti warga kelas dua.
 
“Jangan menjadikan NU sebagai panggung untuk mencari legitimasi, sementara ketika kebijakan dibuat, suara dan kepentingan masyarakat NU tidak didengar,” tegasnya.
 
Pesan yang disampaikan Ansor Jatim sungguh menyentuh nurani: janganlah menyebut saudara jika perlakuan tidak adil. Janganlah mengaku anak jika kader di bawah justru terabaikan.
 
“Kalau tidak, sebesar apa pun spanduk bertuliskan ‘Partai Anak Nahdliyin’, publik akan tetap bertanya: anaknya di mana, kalau ketika dibutuhkan justru tidak diperlakukan sebagai keluarga?”
 
Ini bukan permusuhan terhadap partai mana pun. Ini adalah doa agar politik kita tumbuh menjadi lebih manusiawi, menjunjung tinggi keadilan, dan tidak mengubah pengabdian tulus menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. (Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User