Penjurian Selesai, Desa/Kampung Wisata Kamukah yang Menang?
Ada ketegangan yang terasa berbeda di ruang rapat itu, Rabu (19/8/2026). Setelah dua bulan berkeliling, mengamati, menilai, dan berdiskusi dengan pengelola, Tim Juri Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026 akhirnya duduk bersama untuk menentukan siapa yang layak menyandang predikat terbaik.
ADA ketegangan yang terasa berbeda di ruang rapat itu, Rabu (19/8/2026). Setelah dua bulan berkeliling, mengamati, menilai, dan berdiskusi dengan pengelola, Tim Juri Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026 akhirnya duduk bersama untuk menentukan siapa yang layak menyandang predikat terbaik.
Sebelum angka-angka penilaian dibuka, suasananya justru sangat cair.
Para juri yang selama beberapa bulan terakhir sering bertemu tampak akrab. Gojekan, saling meledek, lalu pecah tawa. Sejenak, ruang rapat seperti bukan tempat untuk menentukan nasib sebuah kompetisi bergengsi.
Ketua Tim Juri yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara, bahkan sempat mengingatkan Kepala Dinas Pariwisata DIY Atik Sudarmi yang baru menjabat awal Agustus lalu.
“Biasa di awal biasanya ketawa-ketawa, guyon seperti ini Bu Kadis. Tapi, di tengah sampai akhir nanti pasti pada bersitegang, ramai kalau membahas nilai para peserta lomba,” ujar Gusti Bendara, mengawali pembahasan hasil penilaian.
Benar saja. Begitu layar menampilkan angka-angka hasil penjurian, suasana berubah. Satu demi satu nilai dari para juri dipaparkan. Persaingan terlihat ketat. Selisih angka menjadi begitu berarti.
Atik Sudarmi yang ikut rapat pun mengaku sempat deg-degan menyaksikan perdebatan para juri.
“Wah saya sempat deg-degan melihat perdebatan seru para juri. Seru sekali. Alhamdulillah akhirnya sudah diketahui pemenangnya,” ungkap Atik seusai Rapat Koordinasi Tim Juri Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026.
Tak Tunjukkan Jati Diri
Angka-angka itu bukan muncul begitu saja. Sebelumnya, para juri telah turun langsung ke lapangan. Sepuluh desa/kampung wisata terbaik dari lima kabupaten/kota di DIY didatangi. Masing-masing kabupaten/kota mengirimkan dua wakil.
Mereka adalah Kampung Wisata Rejowinangun dan Kampung Wisata Taman dari Kota Yogyakarta; Desa Wisata Pleret dan Desa Wisata Kajii dari Bantul; Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Gabugan dari Sleman; Desa Wisata Gulurejo dan Desa Wisata Sidorejo dari Kulonprogo; serta Desa Wisata Katongan dan Desa Wisata Sidoharjo dari Gunungkidul.
Yang menarik, para juri tidak datang dengan atribut sebagai juri.
Mereka datang sebagai wisatawan biasa.
Ada proses reservasi terlebih dahulu. Petugas bahkan mencari kontak desa/kampung wisata melalui media sosial. Setelah itu, perjalanan dilakukan mengikuti prosedur seperti tamu pada umumnya.
Tidak ada pemberitahuan bahwa yang datang adalah juri. Tidak ada karpet merah. Tidak ada penyambutan khusus.
Menurut Kepala Bidang Sumberdaya Pariwisata Dispar DIY Siti Inganati, cara tersebut sengaja dilakukan agar kondisi desa/kampung wisata yang dinilai benar-benar mencerminkan pelayanan sehari-hari.
“Kami menghindari seremoni. Sehingga, para juri ini melakukan reservasi sebagaimana tamu pada umumnya. Ada petugas reservasi yang mencari kontak lewat media sosial desa/kampung wisata yang akan dinilai. Respons terhadap reservasi ini pun menjadi penilaian sendiri,” jelasnya.
Cara ini ternyata menghadirkan cerita tersendiri.
Di salah satu desa wisata, rombongan yang dipimpin GKR Bendara bahkan tidak dikenali hingga sore hari. Padahal, mereka sudah menjalani aktivitas sesuai itinerary seperti wisatawan biasa.
Barulah pada malam hari, para juri mengungkap identitas mereka dan meminta waktu untuk berbincang dalam sebuah sarasehan bersama Ketua Desa Wisata, Ketua Pokdarwis, kepala desa/lurah, dan pihak terkait lainnya.
Di tempat lain, identitas juri baru diketahui ketika rombongan tiba dan ada sosok yang kemudian dikenali.
Semua respons itu menjadi bagian dari penilaian.
Sebab, yang ingin dilihat bukanlah bagaimana sebuah desa wisata tampil ketika tahu akan dinilai, melainkan bagaimana mereka memperlakukan wisatawan setiap hari.
Delapan Indikator, Satu Keputusan
Penilaian dilakukan berdasarkan delapan indikator sebagaimana diatur dalam Pergub DIY Nomor 40 Tahun 2020. Setiap juri memiliki indikator penilaian yang telah ditentukan sebelumnya.
Nilai dari seluruh juri kemudian diakumulasikan.
Di layar ruang rapat, angka-angka itu akhirnya bertemu. Ada yang tinggi di satu indikator, tetapi harus mengejar di indikator lain. Ada yang tampak unggul, tetapi selisihnya tipis.
Di titik inilah pengalaman para juri selama berbulan-bulan kembali diuji.
Sebab menentukan yang terbaik bukan sekadar mencari siapa yang paling ramai, paling terkenal, atau paling menonjol secara visual.
Yang dinilai jauh lebih dalam: bagaimana potensi wisata dikelola, bagaimana masyarakat terlibat, sejauh mana manfaat ekonomi dirasakan warga, bagaimana lingkungan dijaga, serta apakah seluruh proses tersebut mampu berjalan secara berkelanjutan.
Proses panjang itu sendiri telah dimulai sejak seleksi administrasi pada Februari 2026. Setelah melewati tahap kunjungan lapangan dan pembahasan hasil penilaian, akhirnya keputusan pun ditetapkan dalam Rapat Penentuan Pemenang Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026, Rabu (19/8/2026).
Namun, siapa pemenangnya?
Jawabannya belum diumumkan dalam ruang rapat tersebut.
Nama desa/kampung wisata terbaik baru akan menjadi bagian dari momen penghargaan yang direncanakan berlangsung pada 22 September 2026. Penghargaan tersebut rencananya diserahkan langsung oleh Gubernur DIY Hamengku Buwono X.
Kini, sepuluh desa/kampung wisata itu tinggal menunggu.
Mereka telah membuka pintu, menerima tamu, menunjukkan aktivitas, menjawab pertanyaan, dan membiarkan para juri melihat kehidupan desa wisata apa adanya.
Angka-angka sudah ditentukan. Perdebatan sudah selesai. Pemenang pun sebenarnya sudah diketahui.
Tinggal menunggu satu momen ketika nama itu disebut di atas panggung.
Jadi, Desa Wisata atau Kampung Wisata kamukah yang akan membawa pulang predikat terbaik Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026? (Erwan /widyarto)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)