Simpang Lima Jadi Saksi: MTQ Nasional XXXI, Persatuan dalam Kedamaian dan Tradisi Baru yang Dimulai

Sep 14, 2026 - 07:19
0
Simpang Lima Jadi Saksi: MTQ Nasional XXXI, Persatuan dalam Kedamaian dan Tradisi Baru yang Dimulai
Suasana Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang, Sabtu 12/9/2026 malam. (FOTO: Kemenag)

KETIKA ribuan warga Semarang memadati Lapangan Pancasila di Simpang Lima, Semarang, pada Sabtu malam 12 September 2026, sesuatu yang lebih besar dari sekadar pembukaan perlombaan sedang terjadi. 37 kafilah berbaris dengan busana khas daerahnya, puluhan kepala daerah berdiri berdampingan, dan satu pesan terngiang di hati semua yang hadir: kedamaian adalah kekuatan terbesar bangsa ini.
 
Bagi Jawa Tengah, menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI bukan hal yang sepele. Gubernur Ahmad Luthfi benar-benar mewakili perasaan seluruh masyarakat Jateng ketika menyebutkan bahwa ini adalah momen yang ditunggu berpuluh tahun. Kerinduan yang lama terbayar sudah, dan Jateng membuktikan bahwa ia siap menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh keluarga besar bangsa Indonesia.
 
Namun esensi dari kehadiran semua pihak di sana jauh melampaui sebuah pesta olahraga atau kompetisi. Di tengah peta dunia yang semakin terbelah dan ketegangan yang tak kunjung usai, Luthfi menyuarakan sesuatu yang mendalam: “Di tengah geopolitik yang tidak menentu, MTQ di Jateng akan memancarkan kedamaian ke Indonesia dan seluruh dunia.” 

Kalimat ini bukan sekadar retorika pembuka. Ini adalah pernyataan bahwa Indonesia memiliki jalan sendiri untuk berkontribusi pada dunia — bukan dengan senjata, melainkan dengan kitab suci yang mengajarkan kebaikan bagi seluruh alam semesta.
 
Fakta yang disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar juga mencatat sejarah baru: belum pernah sebelumnya sebanyak ini gubernur dan wakil gubernur hadir dalam pembukaan MTQ. Ini menandakan bahwa kesadaran para pemimpin daerah untuk mencintai dan mendekatkan diri pada Al-Qur’an semakin tumbuh. 

MTQ bukan lagi sekadar agenda kementerian, melainkan agenda kebangsaan yang didukung penuh oleh para pemimpin di tingkat daerah.
 
Keputusan strategis untuk meniadakan STQ (Seleksi Tilawatil Qur'an) dan menggantinya dengan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) tahunan adalah terobosan yang cerdas. Dua acara yang esensinya sama kini disatukan, sehingga energi yang terbuang untuk dua kali persiapan dalam dua tahun bisa difokuskan untuk peningkatan kualitas dan frekuensi. 

Semakin sering digelar, semakin luas jangkauan pembinaan, semakin dalam akar kecintaan umat terhadap Al-Qur’an.
 
Kehadiran Menko PMK Pratikno yang mewakili Presiden Prabowo Subianto — yang tengah menjalankan tugas penting di BRICS India — menunjukkan bahwa negara menempatkan MTQ pada posisi yang sangat penting. Presiden mungkin tidak hadir secara fisik, tetapi apresiasinya sampai ke setiap sudut lapangan. Ini bukti bahwa kepala negara memahami: kekuatan bangsa tidak hanya diukur dari perekonomian atau pertahanan, tetapi juga dari seberapa kokoh landasan moral dan spiritualnya.
 
MTQ Nasional XXXI di Semarang adalah bukti nyata bahwa kita bisa berbeda-beda suku, bahasa, dan daerah, tetapi tetap satu dalam kecintaan kepada Al-Qur’an dan kedamaian. Semoga pesan kedamaian yang dikumandangkan dari Simpang Lima ini terus bergema, merambah ke seluruh pelosok negeri, hingga terdengar hingga ke mancanegara. Selamat berkompetisi, selamat bersilaturahmi. Semoga semua pulang membawa kebaikan. (Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User