Di Balik Kecelakaan Maut di Tol Jombang, Mengapa Mengantuk Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu di Jalan Raya?
EMPAT NYAWA melayang dalam sekejap. Tujuh orang lainnya terluka dan harus menjalani perawatan di RSUD Jombang. Kecelakaan maut yang menimpa minibus Travel Daytrans di KM 687+200B Tol Jombang–Mojokerto, Jumat malam (11/9/2026), bukan sekadar berita duka semata.
Peristiwa ini kembali mempertanyakan satu masalah klasik yang seakan tak kunjung usai di jalan raya kita: pengemudi yang mengantuk.
Kanit PJR Jatim 3, AKP Sudirman, dalam keterangannya kepada wartawan menyebutkan dugaan kuat penyebab kecelakaan adalah pengemudi yang tertidur. "Diduga pengemudinya mengantuk sehingga oleng ke kiri menabrak bak truk muatan gypsum di depannya," ujarnya tegas. Sebuah alasan yang terdengar sederhana, namun dampaknya luar biasa mematikan.
Minibus Toyota Hiace bernomor polisi L 7178 AH itu membawa 10 penumpang dari Surabaya menuju Surakarta. Perjalanan malam hari sejauh ratusan kilometer memang bukan hal ringan. Pengemudi, Eko Budianto Setiawan (38), seharusnya dalam kondisi prima. Namun kenyataan berkata lain. Detik-detik sebelum tabrakan terjadi, kendaraan yang dikemudikannya tiba-tiba bergerak tak terkontrol ke lajur kiri — tanda klasik bahwa pengemudi telah kehilangan kesadaran sesaat.
Analisis mengapa kecelakaan ini begitu dahsyat bisa dilihat dari beberapa sisi.
Pertama, kecepatan kendaraan di jalan tol yang tinggi. Saat pengemudi tertidur, kendaraan terus melaju tanpa pengereman sama sekali hingga menabrak truk di depannya.
Kedua, posisi truk yang berada di lajur lambat — seharusnya aman — justru menjadi sasaran tabrakan karena minibus oleng dari lajur cepat.
Ketiga, struktur bagian depan minibus yang ringsek parah menunjukkan energi benturan yang sangat besar, yang langsung berdampak pada penumpang di barisan depan.
Para korban yang meninggal berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah: Karanganyar, Klaten, Wonogiri, dan Sukoharjo. Mereka adalah orang-orang yang mungkin berangkat dengan harapan selamat sampai tujuan, bertemu keluarga, atau menyelesaikan urusan pekerjaan. Namun takdir berkata lain.
Sementara tujuh korban yang selamat, termasuk pengemudi, kini harus menanggung luka fisik sekaligus trauma mendalam atas peristiwa yang dialaminya.
Fakta bahwa pengemudi dan kernet truk sama sekali tidak terluka semakin menegaskan: kecelakaan ini murni karena kesalahan pengemudi minibus. Pertanyaannya kini kembali kepada kita semua: mengapa hal ini terus berulang?
Mengapa perusahaan travel masih memaksakan satu orang pengemudi untuk rute jauh di malam hari?
Mengapa tidak ada sistem pergantian pengemudi yang ketat?
Mengapa tidak ada pembatasan jam terbang yang diawasi secara ketat?
Kecelakaan di Tol Jombang ini adalah satu dari sekian banyak statistik yang menunjukkan bahwa kelelahan dan kantuk adalah musuh terbesar keselamatan berlalu lintas. Berbeda dengan ngebut atau melawan arus, kantuk datang tanpa peringatan. Satu detik terpejam, jarak tempuh kendaraan di kecepatan 100 km/jam sudah menempuh puluhan meter. Itu cukup untuk menabrak apa pun yang ada di depannya.
Kepada seluruh perusahaan jasa angkutan darat: keuntungan tidak boleh didahulukan di atas nyawa manusia. Penumpang membayar bukan untuk dipertaruhkan di jalan raya. Penyediaan pengemudi ganda, pembatasan jam mengemudi, dan jadwal istirahat wajib adalah investasi murah yang bisa mencegah tragedi berulang.
Kepada para pengemudi: tidak ada jadwal yang begitu mendesak hingga nyawa harus dipertaruhkan. Jika terasa berat mata, berat kelopak, dan sering berkedur — berhentilah. Cari tempat aman, tidurlah sejenak. Tujuan bisa ditunda, tapi nyawa tak akan kembali.
Empat jenazah yang kini disemayamkan adalah pengingat paling mahal. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Selamat jalan saudara-saudara kami. Semoga tragedi ini menjadi yang terakhir kalinya.
Identitas 11 korban
1. Kukuh Bimbing (22), warga Karanganyar, Jateng. Kondisi meninggal.
2. Dwi Raharjanto (49), warga Wonosari, Klaten, Jateng. Kondisi meninggal.
3. Tendi Anggoro (28), warga Kecamatan/Kabupaten Wonogiri. Kondisi meninggal.
4. Prawoto (55), warga Grogol, Sukoharjo. Kondisi meninggal.
5. Eko Budianto Setiawan (38), pengemudi minibus. Kondisi luka ringan.
6. Lidia Yustika (28), warga Perumamah Western Regency, Kelurahan Sememi, Benowo, Surabaya. Kondisi luka ringan.
7. Edi Mursito (55), warga Perumahan Tirtamaya Residence, Kelurahan Waru, Baki, Sukoharjo. Kondisi luka ringan.
8. Ismaya Salindri (35), warga Mutihan, Kelurahan Sondakan, Laweyan, Surakarta. Kondisi luka ringan.
9. Ghofur Y Saputra (37), warga Jalan Bantaran, Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru, Malang. Kondisi luka ringan.
10. Sunarto (46), warga Jalan Boerman, Desa Mutung Tengah, Mutung, Parigi Mutung, Palu, Sulteng. Kondisi luka ringan.
11. Yudha (26), warga Kelurahan Wav Kelambu, Komodo, Maggarai Barat, NTT. Kondisi luka ringan. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)