Medali Emas Bersejarah: Raharjati-Rajiah Ukir Nama Indonesia di Puncak Dunia Panjat Tebing
GUIYANG — Tim nasional (Timnas) panjat tebing Indonesia menutup keikutsertaan di ajang World Climbing Series Guiyang 2026 dengan pesta emas yang luar biasa. Guiyang adalah sebuah kota di China, yang merupakan ibu kota Provinsi Guizhou.
Keberhasilan pasangan Raharjati Nursamsa – Rajiah Sallsabillah meraih medali emas nomor speed estafet campuran (mixed relay) melengkapi keberhasilan gemilang yang sudah diawali oleh Antasyafi Robby Al Hilmi di nomor speed perorangan putra. Semua ini bukan kebetulan semata, tapi merupakan buah dari kerja keras, konsistensi, dan persiapan matang timnas Indonesia.
Raharjati-Rajiah: Emas Bersejarah di Estafet Campuran
Pelatih Kepala Timnas Panjat Tebing Indonesia, Galar Pandu Asmoro, mengungkapkan bahwa pencapaian ini sepenuhnya sesuai dengan target yang telah ditetapkan. “Keberhasilan ini bisa dicapai karena konsistensi para atlet dalam latihan,” ujarnya di lokasi pertandingan.
Pada babak perebutan medali emas, pasangan Indonesia 1 tampil dominan. Raharjati Nursamsa membuka akselerasi dengan catatan waktu 4,80 detik, sebelum diteruskan oleh Rajiah Sallsabillah yang menutup dengan waktu 6,55 detik. Gabungan keduanya menghasilkan total 11,35 detik — waktu yang tak tertandingi.
Pasangan tuan rumah, Mengli Zhang dan Ziyu Zhou dari China 2, terpaksa puas meraih medali perak dengan waktu 14,85 detik. Sementara itu, medali perunggu jatuh ke tangan pasangan Amerika Serikat 1, Samuel Watson dan Emma Hunt.
Pasangan kedua Indonesia, Antasyafi Robby Al Hilmi dan Kadek Adi Asih, mencatatkan waktu yang solid yaitu 11,97 detik, namun sayang langkah mereka terhenti di babak perempat final setelah kalah tipis dari AS 1 yang mencatat 11,46 detik.
Robby Buka Jalan, Ukir Emas Pertama
Sebelum kemenangan Raharjati–Rajiah, Antasyafi Robby Al Hilmi lebih dulu menggetarkan panggung internasional. Atlet muda ini tampil luar biasa di nomor speed perorangan putra, meraih medali emas dengan catatan waktu 4,65 detik, mengalahkan andalan tuan rumah, Yongzhi Ling, yang finis di 4,75 detik.
Tidak hanya meraih emas, Robby juga berhasil mempertajam rekor pribadinya — sebuah bukti bahwa ia terus berkembang di setiap kejuaraan.
“Emas pertama saya di World Climbing Series ini berkat dukungan semuanya dan latihan bersama teman-teman di Indonesia,” ungkap Robby dengan haru. Tiga kekalahan di seri sebelumnya dijadikannya bahan bakar untuk bangkit dan membuktikan kelasnya di Guiyang.
Lebih dari Sekadar Medali
Dua emas dari satu ajang kompetisi adalah pencapaian yang luar biasa langka. Ini menunjukkan bahwa Indonesia kini bukan sekadar peserta, melainkan kekuatan utama dunia dalam nomor kecepatan panjat tebing. Kedalaman skuad, mentalitas juara, dan sistem pembinaan yang konsisten menjadi kunci di balik kesuksesan ini.
Perjuangan belum usai. Pada Minggu (13/9/2026), Indonesia kembali menurunkan pasukan terbaik untuk nomor speed relay putra dan putri. Semangat yang sama, tekad yang sama — satu lagi peluang untuk menambah koleksi medali dan semakin mengukuhkan Indonesia sebagai raja panjat tebing cepat dunia.
Terima kasih Raharjati, Rajiah, Robby, dan seluruh Timnas! Kalian adalah kebanggaan sejati Indonesia. Teruslah melangkah, teruslah menaklukkan ketinggian baru. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)