Kegelisahan Para Kiai Pasca-Muktamar ke-35 NU: Dugaan Praktik Risywah (Suap) dan Pengkondisian
RABU malam 9 September 2026 bukanlah malam biasa di Gedung Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), Surabaya. Usai shalat Isya berjamaah, puluhan kiai dari tiga puluh provinsi berkumpul. Bukan untuk sidang. Bukan untuk seremoni. Mereka berdiri di sepertiga malam terakhir, melaksanakan shalat malam 12 rakaat dan istighatsah.
Air mata, doa, dan keprihatinan menyatu dalam satu pertanyaan besar: ke mana arah Nahdlatul Ulama pasca-Muktamar ke-35?
Pertemuan ini dikoordinasi oleh Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, MA, putra KH Abdul Chalim — salah satu kiai pendiri NU yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada Agustus 2023. Hadir kiai-kiai pengasuh pesantren dan guru besar dari berbagai daerah: Tulungagung, Madura, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, hingga Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di antaranya KH Shodiq Hamzah dari Semarang dan KH Farid Wajdi dari Jawa Barat.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kegelisahan ini bukan milik satu daerah saja, melainkan lintas wilayah dan lintas generasi.
ISU UTAMA DUGAAN PRAKTIK SUAP DAN PENGKONDISIAN
Isu utama yang menyatukan mereka adalah dugaan praktik risywah (suap) dan pengkondisian dalam pemilihan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. "Banyak informasi risywah dan pengkondisian dalam AHWA, dan siapa pelakunya, masyarakat se-Indonesia, terutama warga NU, sudah tahu semua," ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim dengan lugas.
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan pribadi, tapi juga merupakan penguatan atas apa yang telah dirasakan dan dibicarakan luas di kalangan warga NU di berbagai penjuru negeri.
Yang paling dicermati dari penjelasan Kiai Asep adalah pola berulang yang terjadi dari muktamar ke muktamar. "Pelakunya orang itu-itu saja sejak Muktamar ke-32 Makassar, Muktamar ke-33 NU di Jombang, Muktamar ke-34 di Lampung, sampai Muktamar ke-35 di Tambakberas Jombang," ungkapnya.
Jika hal yang sama terus berulang dalam empat periode berturut-turut, maka ini bukan kebetulan. Ini mengindikasikan adanya upaya terstruktur yang terus berjalan. Jika tidak segera ditindaklanjuti, dikhawatirkan pola yang sama akan terus berlanjut ke muktamar-muktamar mendatang.
Kiai Asep memperingatkan dampaknya: "Kalau mereka dibiarkan, kita tidak bersikap, mereka akan terus merusak NU dari muktamar ke muktamar."
Pernyataan ini menegaskan bahwa diam bukanlah solusi. Ketiadaan tindakan tegas justru akan semakin memperkuat posisi pihak-pihak yang diduga bermain di belakang layar, sehingga proses demokrasi di organisasi ini kehilangan kredibilitasnya.
DUGAAN INTERVENSI PENGUASA
Satu hal yang juga menjadi sorotan tajam adalah dugaan intervensi pihak kekuasaan negara. Presiden Prabowo Subianto diduga membantah ikut campur dalam pengaturan muktamar NU. Namun di lapangan, justru para menteri dan pejabat tinggi diduga bergerak aktif sebagai operator di balik layar, terlibat langsung dalam proses-proses yang seharusnya murni kultural dan keagamaan. Jika hal ini benar terjadi, maka ini merupakan ancaman serius bagi kemandirian organisasi. NU adalah organisasi kemasyarakatan yang mandiri, bukan perpanjangan tangan kekuasaan politik. Muktamar adalah forum musyawarah ulama, bukan ajang transaksi kepentingan politik.
Pertemuan para kiai di Surabaya ini memberikan pesan simbolis sekaligus nyata. Mereka tidak datang dengan kekuasaan. Mereka datang dengan doa dan keberanian bersuara. Shalat malam dan istighatsah yang mereka lakukan adalah pengingat bahwa kekuatan sejati NU bukan berasal dari kekuasaan duniawi, melainkan dari keberkahan Allah SWT dan kesetiaan pada prinsip-prinsip kebenaran. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa tokoh-tokoh kunci di akar rumput mulai tidak rela proses tertinggi organisasi ternodai oleh kepentingan segelintir pihak.
Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang bersuara, melainkan apa yang akan dilakukan oleh para pemimpin yang terpilih. Apakah dugaan ini akan ditutup-tutupi, atau justru dijadikan titik awal pembenahan menyeluruh agar NU kembali bersih dari praktik-praktik yang merusak? Warga NU menunggu jawabannya. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)