Pameran Turots di Muktamar, Menyibak Khazanah Klasik NU dan Peran Asia Tenggara sebagai Pusat Peradaban Islam
DI TENGAH kemeriahan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, tersaji sebuah ruang yang menghubungkan masa lalu dengan visi masa depan. Pameran bertajuk “Turots di Muktamar” resmi dibuka di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026). Turots adalah warisan atau peninggalan.
DI TENGAH kemeriahan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, tersaji sebuah ruang yang menghubungkan masa lalu dengan visi masa depan. Pameran bertajuk “Turots di Muktamar” resmi dibuka di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026). Turots adalah warisan atau peninggalan.
Peresmian dipimpin oleh Wakil Rais Aam PBNU, KH. Afifuddin Muhajir, didampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan ulama PBNU dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi.
Penyuntingan dan Penguraian Materi
Pameran ini menghadirkan kekayaan intelektual berupa manuskrip kuno, karya ulama Nusantara, naskah asli, hingga linimasa sejarah NU.
BACA JUGA: Bursa Ketua Umum PBNU Mengerucut dan Isu Karantina Menggema Menjelang Muktamar
Diselenggarakan oleh Nahdlatut Turots, kegiatan ini bukan sekadar pajangan benda bersejarah, tapi juga manifestasi identitas organisasi.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ketika memberikan sambutan. (FOTO: Istimewa)
Kehadiran tokoh-tokoh kunci acara menegaskan bobot kegiatan:
BACA JUGA: Kiai Sepuh Ingatkan Muktamirin Bebas Pilih, Pemerintah Harus Netral
- KH. Afifuddin Muhajir: Menekankan ikatan batin antara NU dengan turots (khazanah keilmuan).
- Gubernur Khofifah: Mengaitkan pelestarian ini dengan prediksi pergeseran pusat peradaban Islam dunia.
- Lora Ustman Hasan (Ketua Nahdlatut Turots): Menyajikan data pelestarian konkret.
- Ayung Notonegoro (Ketua Panitia): Membuka akses publik secara luas dan gratis.
Ulasan dan Analisis
1. Turots sebagai Akar Kehidupan Organisasi
Dalam pandangan KH. Afifuddin Muhajir, turots bukanlah benda mati atau peninggalan masa lalu semata. Beliau menegaskan prinsip filosofis: “Tidak mungkin kebangkitan ulama itu terwujud jika tidak diawali kebangkitan turots.” Ini berarti eksistensi dan kemajuan NU tidak dapat dipisahkan dari rujukan asli, pemikiran para ulama terdahulu, dan metode keilmuan klasik yang terjaga keasliannya. Pameran ini adalah bukti bahwa modernisasi organisasi tidak boleh memutus akar intelektualnya.
2. Visi Peradaban: Indonesia di Panggung Dunia
Pernyataan Gubernur Khofifah membawa dimensi geopolitik ke dalam pelestarian budaya. Dengan mengutip pandangan para ahli, ia menempatkan pengembangan turots sebagai mesin percepatan pergeseran pusat peradaban Islam ke Asia Tenggara. Khazanah tulisan ulama Nusantara yang unik menjadi bukti keilmuan lokal yang berdaya saing global. Pameran ini menegaskan bahwa Islam di Indonesia bukanlah konsumen pemikiran asing, melainkan pemilik warisan intelektual yang mandiri dan kaya.
3. Fakta Kuantitatif & Upaya Pelestarian
Ketua Nahdlatut Turots, Lora Ustman Hasan, menyuguhkan data yang mengesankan:
- Lebih dari 60 pesantren terlibat aktif dalam pemuliaan turots dalam 5 tahun terakhir.
- Lebih dari 2.000 naskah telah didigitalisasi, meskipun masih banyak simpanan yang belum tersentuh.
Angka ini menunjukkan adanya gerakan sistematis: dari sekadar menyimpan naskah, beralih ke arah pendataan, pelindungan digital, dan pengenalan publik.
4. Akses Terbuka & Rangkaian Kegiatan
Pameran yang berlokasi di depan Kampus IAI Bani Fatah (IAI BAFA) ini dirancang inklusif —gratis bagi umum dan beroperasi panjang pukul 09.00–22.00 WIB selama Muktamar.
Lebih dari sekadar melihat naskah, rangkaiannya meliputi: klinik turots, daurah tahqiq (penelitian kritik teks), musyawarah pegiat, ijazah sanad, hingga seminar internasional. Hal ini menjadikan kegiatan ini sebagai pusat aktivitas intelektual yang hidup, bukan museum statis.
Pameran “Turots di Muktamar” menjadi pernyataan kuat: NU bangga dengan warisannya. Di tengah hiruk-pikuk agenda politik organisasi, kegiatan ini mengingatkan bahwa kekuatan utama NU terletak pada kedalaman ilmu pengetahuan yang diwariskan para ulama. Melalui digitalisasi dan pembukaan akses luas, turots kini tidak lagi tersimpan rapat di lemari, tapi telah menjadi energi baru bagi peradaban Islam Nusantara. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)