Di Balik Ide dan Sanad: Hati NU Tak Pernah Putus dari Akar Sejarahnya
DI PENDOPO PC ISNU Tulungagung, diskusi tentang masa depan NU berlangsung hangat. Diskusi itu berkisar antara gagasan besar yang memandang ke depan, dan akar sejarah yang menancap kuat.
DI PENDOPO PC ISNU Tulungagung, diskusi tentang masa depan NU berlangsung hangat. Diskusi itu berkisar antara gagasan besar yang memandang ke depan, dan akar sejarah yang menancap kuat.
Ketika Dr. Kholid Thohiri berbicara tentang inovasi, digitalisasi, dan menghadapi kompleksitas zaman tanpa kehilangan jati diri, ia sedang menawarkan peta jalan yang jelas bagi organisasi raksasa ini.
Gagasan ini disambut antusiasme oleh para akademisi. Prof. M. Mas'ud Said, Ph.D. memuji kreativitas ini sebagai prestasi membanggakan dari kalangan kader ISNU. Prof. Dr. Ngainun Naim dan Prof. Dr. Abdul Azis pun memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan strategis tersebut.
Namun, di tengah angin semangat perubahan itu, KH. Muhson Hamdani hadir mengingatkan kita pada satu hal mendasar. Yaitu bahwa peta jalan itu baru bisa berharga jika kita tahu dari mana asalnya.
Kiai Muhson membawa kita kembali ke esensi yang sering terdengar sederhana, namun mengandung bobot kebenaran yang besar: “Jare”. Bukan sekadar pendapat pribadi yang bisa berubah-ubah, melainkan sebuah kata sandi kepercayaan. Bahwa apa yang kita pegang hari ini bukanlah hasil temuan sendiri, tapi merupakan warisan luhur yang disampaikan dari hati ke hati, dari mulut ke mulut, berantai rapi hingga menyentuh sumber ilmu yang paling suci.
Ada keindahan luar biasa dalam konsep sanad ini. (Sanad adalah silsilah atau jalur para perawi atau rang yang meriwayatkan, yang bersambung dari guru terakhir sampai kepada Nabi Muhammad SAW).
Seolah-olah NU adalah satu pohon raksasa yang hidup: saat ranting mudanya bergerak lincah menyambut angin zaman, seperti gagasan cerdas dalam buku Kholid Thohiri, akarnya tetap mencengkeram tanah dengan kuat. Tanah yang subur oleh aliran ilmu tak terputus dari masa lalu.
Korelasinya begitu erat dan menyatu: Tanpa inovasi, tradisi akan menjadi kaku dan mati. Tanpa sanad serta keaslian, inovasi akan liar tanpa arah dan kehilangan jati diri.
Momen di Tulungagung ini mengajarkan bahwa menyongsong abad kedua bukan hanya soal kecerdasan menyusun strategi Tapi juga soal kejujuran pada asal-usul. Bahwa setiap langkah maju yang diambil, senantiasa didasarkan pada prinsip: “Ini bukan gagasanku semata, ini yang disampaikan oleh guru-guru kita, jare mereka.”
Itulah kekuatan yang membuat NU tetap tegak. Cerdas berpikir, namun tetap tenang dan tahu persis dari mana ia berasal.
Bedah Buku "NU Abad II" karya Sahabat Dr. Kholid Thohiri, berlangsung bersama Prof. M. Mas'ud Said, Ph.D, Prof. Dr. Ngainun Naim, Prof. Dr. Abdul Azis, serta H. Moch. Rifa'i untuk menyambut Muktamar NU ke-35. Semoga penuh hikmah, manfaat, dan keberkahan. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)