Kecewa Disebut Londo Ireng oleh Presiden, Ratusan Wartawan Malang Raya Beraksi di Bundaran Tugu

Wartawan se Malang Raya sangat kecewa dengan pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut wartawan sebagai 'Londo Ireng', dan mereka melampiaskan kekecewaan itu dalam aksi protes, Senin (27/7/2026) di bundaran TUGU Kota Malang.

Jul 27, 2026 - 13:12
Updated: 3 hours ago
0
Kecewa Disebut Londo Ireng oleh Presiden, Ratusan Wartawan Malang Raya Beraksi di Bundaran Tugu
Para wartawan saat melampiaskan kekecewaannya terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut "jurnalis Londo Ireng". (FOTO: Widodo/Cowas JP)

PARA WARTAWAN se Malang Raya sangat kecewa dengan pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut wartawan sebagai 'Londo Ireng'. Itulah sebabnya mereka melampiaskan kekecewaan itu dalam aksi protes, Senin (27/7/2026) di bundaran Tugu Kota Malang.

Membawa berbagai tulisan, mengenakan setelan busana serba hitam, sekitar 150-an wartawan dari lintas organisasi itu sempat mencuri perhatian khalayak yang melintas di depan gedung DPRD dan Balai Kota Malang.

Aksi itu berjalan damai. Tidak ada orasi yang meledak-ledak. Mereka, berasal dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya.

Mereka diam dan hanya "menyodorkan" berbagai tulisan. Namun tampak kekecewaan mereka sangat mendalam.

Sampai-sampai Ketua AJI Malang, Benni Indo, dengan sangat keras dalam orasinya menegaskan bahwa stigma yang diluncurkan Presiden Prabowo itu menyamakan jurnalis dengan penjajah, pengkhianat, dan penindas rakyat ala era kolonial. "Kami Bukan Londo Ireng!," tegasnya.

"Frasa 'Londo Ireng' yang disematkan kepada wartawan sangat kontradiktif. Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, banyak pahlawan nasional yang berlatar belakang jurnalis, seperti WR Supratman pencipta lagu Indonesia Raya, Tirto Adhi Suryo, Adam Malik, Roehana Koeddoes, hingga HOS Cokroaminoto," kata Benni.

"Orang yang selama ini menasbihkan dirinya paling nasionalis, nyatanya mencela para pejuang. Bahkan lagu Indonesia Raya yang selalu dinyanyikan itu, itu ciptaan jurnalis lho," ujarnya.

Ketua IJTI Korda Malang Raya, Hilda Daningtyas pun menilai ucapan Prabowo itu sangat melukai harga diri, independensi, serta marwah profesi wartawan. 

Baru kali ini ada Presiden Indonesia yang berkata seperti itu. Zaman Bung Karno, Pak Harto, Bu Mega, Pak SBY, Pak Jokowi nggak pernah mencerca seperti itu. 

"Sebagai Kepala Negara, Presiden seharusnya tahu bahwa kita ini bukan kaki tangan asing. Tugas kita adalah menghadirkan informasi yang jujur bagi masyarakat," katanya.

Ketua PWI Malang Raya, Ir. Cahyono juga menegaskan, bahwa aksi di Bundaran Tugu ini dilakukan untuk menuntut pertanggungjawaban moral dari kepala negara atas pencemaran profesi jurnalis.

"Para wartawan meminta supaya Presiden Prabowo mencabut ucapannya, dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh insan pers, karena mencoreng marwah profesi jurnalis ini," kata Cahyono.

Sementara itu, Ketua PFI Malang, Darmono mengingatkan bahwa kritik adalah bagian dari fungsi kontrol sosial pers sebagai pilar keempat demokrasi.

"Pernyataan Presiden Prabowo mencederai profesi jurnalis. Sebagai salah satu pilar demokrasi, pers berkewajiban untuk mengkritik berbagai kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Jika mengkritik dianggap melawan, ia perlu diingatkan bahwa ia menerima mandat dari rakyat dan digaji dari uang rakyat. Janganlah memberi contoh buruk apalagi di atas podium resmi seperti itu," kata Darmono.

Aksi itu berjalan tidak terlalu lama, hanya sekitar dua jam saja. Namun pengawalan dan pengawasan tampak ketat. Para petugas kepolisian dari Polresta Malang Kota yang tampak sibuk mengatur arus lalu lintas karena Bundaran Tugu adalah jalur strategis di Kota Malang. (*/widodo irianto)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User