Di Balik Angka Delapan dan Kanun Asasi: Janji Kebersamaan NU Baru
SUASANA di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena ini adalah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, namun karena kehadiran, semangat, dan kedekatan yang terjalin sepanjang proses muktamar.
SUASANA di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena ini adalah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, namun karena kehadiran, semangat, dan kedekatan yang terjalin sepanjang proses muktamar.
Di penghujung acara, Ketua Umum PBNU terpilih masa khidmat 2026–2031, KH. Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin), menyampaikan sambutan yang lugas, hangat, namun sarat makna. Sebuah gambaran hati yang baru saja dipercaya memikul amanah besar.
Simbol Angka dan Keberkahan: Kecocokan yang Tak Disangka
Membuka kata, Gus Kikin —demikian beliau akrab disapa— dengan santun menyapa hadirin yang terhormat. Mulai dari Presiden RI Prabowo Subianto, para ulama, pengurus wilayah, hingga para peserta muktamar yang disebutnya sebagai kebanggaan tersendiri.
BACA JUGA: Gus Kikin Terpilih di Balik Perubahan Jalan Demokrasi Santri
Dalam nada yang bersahaja, beliau mengungkapkan sebuah keunikan yang menggelar senyum: serangkaian angka yang menyertai hidupnya dan perjalanan muktamar ini.
“Tanggal lahir saya 17, Pak. Jumlahnya 8. Bulannya juga 8, tahunnya juga 58. Dan saya kebetulan diamanahi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang kedelapan,” ujarnya disambut tepuk tangan hangat.
BACA JUGA: Di Balik Pintu Tertutup: Mufakat KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031
Bagi Gus Kikin, deretan angka ini bukan sekadar kebetulan. Ia melihatnya sebagai keharmonisan yang menyertai perjalanan mendampingi Rais Am terpilih KH. Miftahul Akhyar. “Rasanya enggak berlebihan saya nyocok-nyocokan ini. Kelihatan semuanya cocok, mungkin tinggal nasibnya yang enggak, beda orang,” ucapnya dengan rendah hati.
Muktamar Penuh Semangat: Kurang Tidur namun Hati Penuh
Muktamar ke-35 ini terasa istimewa. Salah satu buktinya adalah kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada dua momen krusial: pembukaan dan penutupan. Hal ini, menurut Gus Kikin, baru pertama kali terjadi dan menjadi energi luar biasa bagi seluruh peserta.
“Proses berjalan lancar, persidangan lancar, pembahasan pun banyak solusi yang tercapai. Mungkin ini barokah Pondok Tambakberas,” ungkapnya penuh syukur.
Semangat peserta pun disebutnya luar biasa. Bahkan kelelahan tak terasa. Hampir tak tidur, berdiskusi hingga menjelang subuh, melanjutkan hingga tengah malam —namun kebersamaan terasa begitu kental. “Tempat duduk hampir penuh hingga pagi. Mengherankan, mereka betah, saking asyiknya. Mungkin karena ini di Tambakberas,” tambahnya bangga.
Gus Kikin pun berterus terang: dirinya baru terpilih sekitar dua jam sebelum berbicara. Belum sempat mencatat banyak hal, namun satu hal yang pasti: ada suasana beda —suasana persaudaraan yang tulus dan mendalam.
Menemukan Kembali Kanun Asasi: Jalan NU ke Depan
Poin paling mendalam dalam sambutan ini adalah penekanan pada warisan sejarah yang hampir terlupakan. Gus Kikin menceritakan penemuan kembali Kanun Asasi —naskah karya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari yang diselesaikan sekitar tahun 1928.
Kanun berasal dari bahasa Arab (qānūn) yang diserap dari bahasa Yunani Kuno (kanōn), bermakna aturan, norma hukum, atau undang-undang.
Dulu, dokumen ini menjadi pedoman utama pergerakan NU, namun sempat tidak digunakan saat NU menjadi partai politik. Kembali ke Khittah 1984, NU kembali pada jati diri aslinya, namun Kanun Asasi saat itu hanya tersisa mukadimahnya saja.
“Tiga tahun lalu, alhamdulillah di Tebuireng kami menemukan bab-bab yang hilang —bab ketiga, keempat, dan seterusnya— lalu kami rangkai kembali menjadi satu buku utuh,” ungkapnya dengan nada haru.
Bagi Ketua Umum yang baru ini, Kanun Asasi adalah kunci emas. Dulu, NU tumbuh pesat dan disegani karena memiliki pedoman yang jelas. Kini, memasuki abad kedua perjalanannya, Gus Kikin berharap naskah bersejarah ini kembali menjadi kompas:
- Menjaga persatuan dan ukhuwah;
- Memperkokoh jati diri manhaj;
- Membawa NU menjadi kekuatan yang menenangkan, guyub, dan berkhidmat tulus pada umat.
“Dengan modal Kanun Asasi, kita galang persaudaraan, kita bawa Indonesia ke depan. NU yang bermassa besar, semoga bisa menjadi masyarakat yang tenang dan bersatu —tujuannya satu: khidmat untuk kemaslahatan umat,” tegasnya.
Penutup Penuh Harapan
Di akhir pidato singkat namun padat itu, Gus Kikin menutup dengan doa agar segala langkah ini diridhoi Allah SWT. Ia membawa pesan sederhana namun kuat: meski baru menjabat, arahnya sudah jelas —pulang ke akar yang kuat, berjalan dengan semangat persaudaraan, dan berpegang teguh pada pedoman leluhur.
Muktamar ke-35 bukan sekadar memilih pemimpin, melainkan menyatukan hati di bawah naungan tradisi yang hidup. Dan di tangan pemimpin baru ini, NU melangkah —berbekal keberkahan angka, semangat peserta, dan peta jalan yang baru saja ditemukan kembali. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)