Duka Nestapa Seorang Anak di Balik Tragedi KM Virgo Transport 8

Sep 16, 2026 - 22:25
0
Duka Nestapa Seorang Anak di Balik Tragedi KM Virgo Transport 8
Suasana pemberangkatan jenazah Reyner Fausta Yosilianto ke pemakaman. (FOTO: Istimewa)

MUSIBAH tenggelamnya KM Virgo Transport 8, dalam perjalanan laut Surabaya-Banjarmasin, menyisakan ribuan kisah duka yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Salah satu yang paling menyayat hati datang dari Dusun Wonorejo, Desa Krisik, Kabupaten Blitar. 

Di sebuah rumah sederhana di kaki Gunung Kawi, seorang ibu kehilangan seorang putranya dan kini masih menanti kepastian nasib putra sulungnya itu. 
 
Susanto dan Reyner Fausta Yosilianto adalah kakak beradik yang memilih jalan perantauan. Susanto, sang kakak, sudah lama menjadi sopir truk yang mengarungi jalur antarpulau. Reyner, adiknya, baru saja memulai langkahnya. Karena pekerjaan di kebun terhenti saat musim kemarau, Reyner memutuskan ikut kakaknya sebagai kernet. Baru tiga kali berangkat, baru satu bulan mengabdi. Namun perjalanan keempatnya berakhir tragis di tengah Laut Jawa.
 
Keluarga tidak mendapat kabar dari pihak berwenang terlebih dahulu. Berita itu datang dari media sosial — Minggu pagi 13/9/2026, melalui unggahan TikTok. Itulah kenyataan pahit yang dialami ribuan keluarga korban bencana maritim di Indonesia. 

Informasi yang seharusnya cepat dan terstruktur, justru sampai terlambat dan membingungkan. Awalnya ada kabar mereka selamat, lalu hilang kontak, lalu berita duka datang perlahan. Proses identifikasi pun tidak mudah. Reyner tidak membawa KTP. Butuh sidik jari untuk memastikan bahwa jenazah yang ditemukan adalah anak mereka sendiri.
 
Di tengah pemakaman yang berlangsung sederhana, ada pemandangan yang membuat siapa pun terenyuh. Filda, anak perempuan Susanto yang berusia 11 tahun, berdiri di depan rumahnya sambil menangis. Ia memohon kepada kakeknya untuk segera menjemput ayahnya. Seorang anak kecil yang harus memahami makna kehilangan ayah dan ketidakpastian sekaligus. 

Ia tahu pamannya sudah dimakamkan. Ia tahu ayahnya belum pulang. Namun logika anaknya tetap bertanya: mengapa tidak ada yang menjemput ayah?
 
Tragedi ini juga menyoroti realitas ekonomi yang keras di daerah pedesaan. Desa Krisik bukan daerah kaya. Banyak warganya harus merantau untuk bertahan hidup. Musim kemarau yang panjang membuat Reyner kehilangan pekerjaan di ladang. Ia lalu memilih jalan yang berisiko — melintasi lautan demi membantu keluarganya. 

Keputusan yang lahir bukan karena ambisi besar, melainkan karena kebutuhan mendesak.
 
Hingga hari ini, empat warga Blitar tercatat sebagai korban. Satu selamat, satu dimakamkan, dua lainnya masih hilang. Di rumah-rumah mereka, lampu tetap menyala setiap malam. Meja makan tetap disiapkan. Harapan itu tidak pernah benar-benar padam, sekalipun logika perlahan mulai paham akan kenyataan.
 
Tragedi KM Virgo Transport 8 bukan sekadar berita angka di koran. Ia adalah tentang ibu yang menanti, istri yang menduda, anak yang kehilangan ayah, dan pemuda yang baru saja memulai hidupnya namun dipaksa berhenti terlalu cepat. Semoga duka ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran bukan hal yang bisa ditawar-tawar. Nyawa rakyat terlalu mahal untuk dipertaruhkan demi penghematan yang tidak berarti.
(Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User