Kuasai Bisnis Laundry Nyaris Tanpa Modal

PADA tahun 2003 hingga 2007, Purwono Hary Wibowo dikenal sebagai bartender di Kuala Lumpur. "Saya hanya bertahan 2 tahun di Akademi Desain 'Visi' Yogjakarta," kenang dia.

Aug 09, 2026 - 16:18
Updated: 5 hours ago
0
Kuasai Bisnis Laundry Nyaris Tanpa Modal
Purwono Hary Wibowo di toko perlengkapan laundry -nya. (FOTO: Dok. Hary)

PADA tahun 2003 hingga 2007, Purwono Hary Wibowo dikenal sebagai bartender di Kuala Lumpur. "Saya hanya bertahan 2 tahun di Akademi Desain 'Visi' Yogjakarta," kenang dia.

Maka, cita-citanya mengantongi sertifikat Diploma 3 Desain Grafis, kandas di tengah jalan. "Orangtua sudah tidak sanggup membiayai," alasan Hary, panggilan akrab lelaki kelahiran Singaraja usia 49 tahun ini.

Karena ingin mandiri, Hary kemudian nekad menerima tawaran sebagai pelayan restoran di Kuala Lumpur, pada 2003. "Modalnya hanya pasif berbahasa Inggris, dan tahan malu saja," tuturnya, blak-blakan.

Seiring waktu, jabatannya naik hingga dipercaya sebagai bartender. "Saya tidak doyan minuman keras. Tetapi, karena profesi saya dituntut untuk mampu meracik minuman," jelas Hary.

Lantaran kangen kampung yang membesarkannya di Jember, Hary meninggalkan Kuala Lumpur (2007). Tabungannya sebagai bartender digunakannya sebagai modal membuka usaha: Neo Laundry.

Karena tidak paham bisnis laundry, Hary 'kebablasan' membeli perlengkapannya. "Spesifikasi mesinnya terlalu besar, padahal usaha saya masih kecil-kecilan. Salesman-nya yang 'menjerumuskan' saya untuk membeli mesin tersebut," sambung dia, sambil tertawa kecil.

Tahun 2014, Hary terpaksa menyerahkan pengelolaan Neo Laundry kepada salah seorang saudaranya. Sebab, istrinya mengajak dia untuk ke Palembang. "Orangtuanya istri sudah tua. Jadi, dia merasa punya kewajiban moral untuk merawat orangtuanya," alasan Hary.

Selanjutnya, Hary sempat menjadi staf hotel di Jakarta. Dia baru sadar, bahwa istrinya harus ditemaninya setiap hari di Palembang, lantaran saran dari salah seorang sahabatnya. "Saya diingatkan oleh dia, bahwa sesungguhnya saya wajib mendampingi istri saban hari," papar Hary.

Itulah sebabnya dia rela melepas pekerjaannya. Tidak lama setelah kembali tinggal di Palembang, Hary membuka usaha laundry. Dia sengaja memberi nama Neo Laundry sebagaimana bisnisnya doeloe di Jember.

Pada akhirnya Hary membuka usaha perlengkapan laundry bersama seorang temannya. Namun, kerjasama itu hanya bertahan 6 tahun saja. 

Pecah Kongsi

Perkongsian itu pecah pada 2024. "Ada beberapa prinsip yang kami tidak klop. Jadi, saya pilih mengundurkan diri," jelasnya.

Berbekal pengalaman bisnis tadi, Hary kemudian mendirikan usaha yang sama. Xentra, begitulah nama bisnis barunya tersebut. Lokasinya di kawasan Sukamaju Pusri.

Dia memang masih menyewa 2 ruko untuk mengoperasionalkan Xentra. Namun, kini nama Hary berkibar sebagai pengusaha perlengkapan laundry paling moncer di Sumatera Selatan. Pegawainya 9 orang. "Hampir semua item perlengkapan laundry yang beredar di Indonesia, tersedia di Xentra. Termasuk suku cadangnya," ungkap Harry.

Menurutnya, bisnis perlengkapan laundry sangat prospektif di Sumatera Selatan. Itulah sebabnya, dia berencana untuk membuka cabang di beberapa kabupaten. "Insya Allah dalam waktu dekat kami akan buka di Indralaya," katanya.

Harry mengaku hanya bermodal nekad saja, ketika mendirikan Xentra. "Hampir semua modal kerjanya di-support oleh  prinsipal. Mungkin karena mereka tahu rekam-jejak saya selama ini," tutur ayah 2 orang anak tersebut.

Mempunyai bisnis perlengkapan laundry dituntut kesabaran dalam menghadapi klien. "Agar mampu menjaga kepercayaan mereka, kami dituntut untuk jujur dalam memaparkan spesifikasi mesin," jelasnya, serius.

Lewat Xentra, Hary mencoba memompa spirit bisnis bagi kita semua. "Untuk mengawali usaha, memang butuh modal. Tetapi, jika kita memiliki rekor bisnis yang baik, insya Allah ada jalan terkait masalah permodalannya. Xentra adalah contohnya," kata dia. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User