Presiden Prabowo Sortir Buku Pelajaran yang Tak Layak: Ada yang Mudah Sobek, Ada yg Hurufnya Terlalu Kecil

PERUBAHAN besar sering kali bermula dari hal yang sederhana. Saat berkunjung ke sejumlah sekolah, Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar menyapa siswa dan guru. Beliau duduk, mengambil buku pelajaran, dan membukanya satu per satu. 

Aug 08, 2026 - 17:23
0
Presiden Prabowo Sortir Buku Pelajaran yang Tak Layak: Ada yang Mudah Sobek, Ada yg Hurufnya Terlalu Kecil
Presiden Prabowo Subianto berbicara dengan para siswa. (FOTO: Instagram)

PERUBAHAN besar sering kali bermula dari hal yang sederhana. Saat berkunjung ke sejumlah sekolah, Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar menyapa siswa dan guru. Beliau duduk, mengambil buku pelajaran, dan membukanya satu per satu. 

Di situlah beliau melihat hal yang menyentuh hati. Ada buku yang bahannya tipis dan mudah rusak, ada yang tulisannya terlalu kecil hingga anak-anak harus mendekatkan wajah ke halaman. Dan ada yang isinya sudah kurang sesuai dengan kebutuhan zaman.
 
Bukan sekadar mencatat kekurangan, momen itu menjadi titik tolak bagi pembaruan pendidikan nasional. Presiden ingin memastikan setiap siswa dari SD hingga SMA memegang buku yang layak, nyaman dibaca, dan kaya manfaat.
 
“Saat mengecek buku pelajaran, beliau lihat satu per satu. Kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang tulisannya kecil-kecil sehingga anak-anak SD harus membacanya dengan sangat dekat. Atas dasar itu, beliau ingin semua buku dari jenjang SD sampai SMA diperiksa,” ungkap Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026) seperti yang diunggah di laman resmi Presiden Prabowo.
 
Langkah nyata pun segera disusun. Buku-buku pelajaran dalam negeri akan dibandingkan dengan buku dari negara tetangga, guna menemukan cara terbaik untuk meningkatkan kualitasnya. 

Tak hanya soal isi, fisik buku pun menjadi perhatian utama: ukuran huruf yang pas, tampilan yang menarik, hingga bahan kertas yang kuat agar bisa dipakai lama —bahkan bisa diwariskan ke adik kelas.
 
Isi buku pun tak kalah penting. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan tiga hal utama yang ingin diperkuat:

 Pertama, pembentukan karakter dan rasa cinta tanah air; 

Kedua, penguasaan sains, teknologi, dan dasar matematika untuk mengejar ketertinggalan; 

Ketiga, kemampuan berbahasa asing agar generasi muda siap bersaing di dunia internasional.
 
Ada kisah menyentuh di balik semangat ini. Perhatian Presiden terhadap buku dan membaca tumbuh dari didikan keluarganya sejak kecil. Setiap minggu, anak-anak diwajibkan membaca buku, membuat ringkasan, dan menyampaikannya kepada orang tua (Pak Soemitro Djojohadikoesoemo). 

Kebiasaan inilah yang kini ingin beliau tanamkan kembali ke seluruh pelosok negeri.
 
“Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk menggalakkan kembali budaya gemar membaca. Membaca adalah jendela dunia, dan kami ingin setiap anak Indonesia memiliki akses ke jendela yang paling indah,” tambah Menteri Prasetyo.
 
Pembaruan buku ajaran bukan sekadar soal benda cetak. Ini adalah tentang menanamkan harapan, membuka wawasan, dan memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan fondasi yang kokoh. 

Mulai dari halaman yang bersih dan tulisan yang jelas, kita melangkah menuju masa depan yang lebih terang bagi seluruh bangsa. (Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User