Kader NU adalah Sosok Manusia Utuh yang Berilmu Luas

DI MOMEN bersejarah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sebuah pesan mendalam menggetarkan hati para kader. Bukan sekadar tentang pergantian pimpinan atau aturan organisasi, tapi tentang siapa kita sebenarnya dan untuk apa kita berjuang. 

Aug 29, 2026 - 06:00
0
Kader NU adalah Sosok Manusia Utuh yang Berilmu Luas
Prof Dr Muhammad Mas'ud Sa'id MM, Ph.D (kiri) di acara ISNU Talk. (FOTO: Kusnin)

DI MOMEN bersejarah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sebuah pesan mendalam menggetarkan hati para kader. Bukan sekadar tentang pergantian pimpinan atau aturan organisasi, tapi tentang siapa kita sebenarnya dan untuk apa kita berjuang. 

Dalam dialog hangat program ISNU Talk, Prof. Dr. H. Muhammad Mas'ud Said, M.M., Ph.D. membuka cakrawala jiwa. Mengajak kita merenungkan hakikat menjadi kader NU yang sejati.

Bagi banyak orang, menjadi kader sering disamakan dengan jabatan atau atribut luar. Prof. Mas'ud mematahkan pandangan itu dengan lembut, namun tegas. Kader NU adalah sosok manusia utuh yang berilmu luas —tidak hanya mendalami agama, tapi juga terbuka pada kedokteran, sains, ekonomi, hingga seni.

BACA  JUGA: Khidmat 2021-2026 Diterima secara Aklamasi, Tak Satu pun Menolak

"Rasulullah SAW sendiri adalah pengusaha tepercaya, sebelum diangkat menjadi Rasul," kenangnya

Ahlussunnah wal Jama'ah tidak menolak modernitas. Justru, nilai-nilai moderat, toleransi, dan keseimbangan harus menjadi nyawa yang mengalir dalam setiap pekerjaan. Mulai dari birokrasi, dunia usaha, hingga pendidikan. Identitas NU tidak tertulis di baju, melainkan terukir dalam integritas setiap tindakan.

Dua Akar Satu Pohon: Warisan Keluarga dan Pilihan Hati

Ada keindahan tersendiri dalam wajah keanggotaan NU. Ada mereka yang tumbuh dalam pelukan tradisi keluarga —membawa darah dan kenangan sejarah sejak kecil. Namun, ada pula mereka yang berjalan jauh, mencari kebenaran, lalu menemukan kedamaian dalam NU saat dewasa.

BACA  JUGA: LPJ PBNU Masa Presiden Prabowo Resmi Buka Muktamar ke-35 NU dan Minta Kartu Anggota NU.

Fakta menunjukkan: lebih dari separuh warga NU terikat bukan oleh administrasi, melainkan oleh kesesuaian jiwa. Mereka —para profesional, pejabat, akademisi-- datang karena menemukan demokrasi, kebebasan, dan kemanusiaan yang tulus. NU kini bukan sekadar rumah warisan, melainkan rumah terbuka bagi siapa saja yang mendambakan Islam yang damai, sejuk, dan relevan.

Masuklah untuk Mengabdi, Bukan Menguasai

Di tengah antusiasme bergabung, ada peringatan emas dari Kiai Mukit Mijadi yang diulang kembali.

BACA  JUGA: Pameran Turots di Muktamar, Menyibak Khazanah Klasik NU dan Peran Asia Tenggara sebagai Pusat Peradaban Islam

"Ojo NU kanggo Ndukurne Awakmu " — Jangan masuk NU untuk meninggikan diri sendiri.

Ini adalah nasihat yang meruntuhkan kesombongan. NU bukan tempat untuk kita datang lalu "memperbaikinya" sesuai keinginan pribadi. Anggaplah NU sebagai orang tua yang bijak: kita datang untuk belajar, mencetak diri kita ulang, dan mengabdi— bukan mengorbankan jamiyah demi kepentingan pribadi.

Peran Ikatan Sarjana NU (ISNU) menjadi sangat istimewa di sini: mengumpulkan kecerdasan tinggi, namun tetap berjalan dengan kerendahan hati.

Muktamar Harapan: Menjawab Panggilan Dunia

Muktamar ke-35 ini bukan hanya milik warga NU. Mata negara dan dunia sedang menatap. Harapannya berat: agar NU mampu menawarkan tata kelola yang adil, bermusyawarah, dan berjiwa manusiawi.

Menghadapi badai informasi zaman, pesan Prof. Mas'ud menjadi energi motivasi yang dahsyat:
 "Be yourself, improve yourself, and build your contribution," sitirnya.

Jadilah diri Anda yang unik, jangan berhenti bertumbuh —karena potensi diri jauh lebih besar dari yang dibayangkan— lalu berikanlah karya nyata. Kaderisasi sejati bukan sekadar mencari pengurus, melainkan menjamin napas kehidupan dan semangat khidmat tetap berdenyut dari generasi ke generasi.

Meski tak dipanggil pun, NU harus tetap berjalan tegap —menjadi pelaku perubahan, bukan penonton. Marilah kita menyatukan langkah: memetik manfaat spiritual, mengasah profesionalitas, dan merajut persaudaraan —menjadi generasi terbaik yang siap meneruskan perjuangan mulia. (Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User