Bencana Gempa di Flores 15 Agustus 2026, Ingatkan Saya pada Gempa yang Lebih Ngeri di Sana Tahun 1992

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un. Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB — Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diguncang dahsyat. Gempa Magnitudo 7,7 berpusat di laut, 38 km timur laut Mbay, Nagekeo, kedalaman hanya 15 km. Getaran terasa hingga NTB dan Sulsel. 

Aug 15, 2026 - 22:12
Updated: 27 minutes ago
0
Bencana Gempa di Flores 15 Agustus 2026, Ingatkan Saya pada Gempa yang Lebih Ngeri di Sana Tahun 1992
Para pasian di rumah sakit terpaksa diamankan di luar gedung. (FOTO: dari unggahan Vidio warga Flores)

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un

Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB — Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diguncang dahsyat. Gempa Magnitudo 7,7 berpusat di laut, 38 km timur laut Mbay, Nagekeo, kedalaman hanya 15 km. Getaran terasa hingga NTB dan Sulsel. 

Peringatan dini tsunami sempat berkumandang, warga pesisir berlarian ke tempat lebih tinggi. Pukul 07.31 pagi, peringatan dicabut. Namun duka tak terelakkan: 38 jiwa meninggal, 2 luka berat, 11 luka ringan, dan 2.000 warga mengungsi. Rumah rusak, jalan longsor, fasilitas umum terdampak. Di balik angka itu, ada keluarga yang berduka, ada rumah yang kini tinggal puing.

TAHUN 1992 TERCATAT LEBIH dari 2.500 KORBAN TEWAS

Peristiwa ini langsung mengingatkan kita pada tragedi yang tak boleh dilupakan: Gempa dan Tsunami Flores 1992. Tepat 34 tahun lalu, 12 Desember 1992, gempa 7,8 Mw mengguncang lepas pantai Flores, memicu tsunami setinggi 26 meter. 

Lebih dari 2.500 orang tewas, 90.000 kehilangan tempat tinggal, 18.000 rumah hancur. Maumere luluh lantak. Saat itu Indonesia belum memiliki ahli tsunami, peringatan dini nyaris tak ada, sehingga korban jiwa menjadi sangat besar.

Kala itu, setelah gempa 12 Desember 1992, kami dari tim Banser (Barisan Ansor Serbaguna) berangkat dari Armatim Surabaya, membawa harapan dan bantuan. Perjalanan laut memakan waktu lima hari penuh sebelum akhirnya mendarat di Larantuka. 

Foto: Istimewa

Saat itu, suasana di sana masih poranda. Bangunan runtuh, jalan rusak, dan yang paling memilukan masih banyak mayat yang belum sempat terurus. Duka menyelimuti setiap sudut kota. Orang-orang berjalan tanpa arah, mata merah, tubuh lelah. Bukan hanya karena bencana, tapi karena kehilangan yang begitu besar.

Selama  seminggu kami bertugas di Larantuka. Membersihkan puing, membagikan bantuan, merawat yang terluka, menenangkan hati yang hancur. Setelah itu, pindah ke Sikka. Dua minggu di sana, terus berjuang di tengah keterbatasan.

Padahal, sesuai mandat Pimpinan Pusat Ansor dan Ansor Jawa Timur, kami hanya ditugaskan lima hari saja menjadi relawan di Maumere. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Kami tak sanggup pergi begitu saja, maka kami memperpanjang masa bakti, menunda kepulangan, dan tetap tinggal.

Saat Kapal Pulang, Harapan Berlayar Ke Jawa

Tepat saat di Sikka, datang kabar — KRI Teluk Banten akan kembali ke Jawa. Kami langsung berkoordinasi dengan Satlak Bencana Flores. "Alhamdulillah, ada kapal pulang ke Jawa." 

Maka, di atas kapal itu, pulanglah 22 anggota Banser yang selesai bertugas, berdampingan dengan rombongan pelajar dan mahasiswa Maumere yang harus kembali menuntut ilmu di Jawa — masa libur telah usai, dan pendidikan tak boleh berhenti. Hati mereka berat, namun mereka tahu: belajar adalah cara terbaik membangun masa depan.

Sementara itu, Pasukan Bhirawa Anoraga tetap bertahan di lokasi, siap siaga selama enam bulan penuh. Mereka tak pergi sebelum warga bisa berdiri sendiri. Mereka tetap membersihkan puing, membangun kembali kantor dan rumah yang hancur, membagikan bantuan, menemani warga bangkit. Ini bukti nyata bahwa persaudaraan tak berakhir saat bencana datang.

Hikmah di Balik Setiap Langkah

Meski waktu tugas yang ditetapkan hanya singkat, di sana kami menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga. Banyak hikmah yang kami dapat. Setiap hari di lapangan menambah pengalaman yang takkan pernah kami dapatkan di mana pun.

Kami belajar tentang ketabahan, tentang kebersamaan, tentang arti membantu sesama tanpa pamrih. Pengalaman itu membentuk kami menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih peka, dan lebih bersyukur.

Kini, gempa kembali mengguncang Nagekeo. Meski BMKG menyatakan Jawa Timur aman, Anggota Komisi D DPRD Jatim Dewanti Rumpoko mengingatkan: jangan pernah lengah. Alam itu dinamis. Mitigasi tak boleh hanya reaktif — harus ada penguatan sistem peringatan dini, edukasi publik, dan simulasi rutin di pesisir selatan Jawa Timur. Kesadaran kolektif itulah yang kelak menyelamatkan nyawa.

Bangkit dengan Ilmu, Tetap Bersama

Dua gempa, terpisah 34 tahun, namun pesannya sama: bencana bisa meruntuhkan bangunan, tapi tak bisa meruntuhkan tekad manusia. Pelajar Maumere yang berangkat ke Jawa tahun 1992 kini banyak yang telah kembali — menjadi guru, dokter, pemimpin — membawa ilmu untuk membangun kembali tanah kelahiran mereka. Dan Pasukan Bhirawa serta para relawan Banser yang tetap tinggal menjadi bukti: kita tak pernah sendirian.

Semoga duka Nagekeo hari ini menjadi pengingat — bersiaplah hari ini, karena kesiapsiagaan adalah kasih sayang kepada sesama. Dan bagi setiap anak Flores: belajarlah sungguh-sungguh, karena tanganmulah yang kelak membangun negeri ini lebih kuat dari sebelumnya.

Selamat jalan para korban. Semoga Flores selalu diberi perlindungan dan kekuatan. Merdeka! (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User