Pojok Histori

Misteri Anggur Merah di Kembang Kuning

Siapa yang pernah mendengar cerita tentang " Misteri Anggur Merah"? Satu dari...

Wajah Beku Sang Wali Negara

Lelaki tua itu berjalan pelan ke arah pelataran Ruko Graha Soetomo di Jalan D...

Darah Perawan di Cemoro Sewu

Inilah kisah kelam masa lalu. Sungguh, cerita duka ini yang terjadi sekitar 6...

Kisah Pilu Si Pantat Bahenol

Membaca tulisan Hendrall Koesnan “Kisah Pilu Si Pantat Bahenol “ saya senyum2...

Beli Taksi, Hasilnya untuk Kuliah Dua Anak

MESKI pensiun dari Jawa Pos 12 tahun yang silam, namun saya baru hengkang dar...

Kisah Pilu Si Pantat Bahenol

Akhirnya setelah lima tahun menyandang predikat wartawan, saya bisa memiliki ...

''Menyadap'' Berita di Kamar Putera Kiai

Kami mencatat cerita mereka dengan tulisan Arab Pegon. Banyak yang terhenyak ...

Banyak Pemalsuan Data Lahan, Warga Berontak

Setelah melalui proses puluhan tahun, akhirya proyek Waduk Nipah, di Kecamata...

''Pak Habibie, Mengapa Anda Pintar?''

Suatu pagi, mbak Oemi, sekretaris redaksi Jawa Pos memanggil, dan menyodorkan...

Balada Sepatu Gosong

Sepatu kecil itu semuanya enam buah. Tapi sungguh tak saya duga sebelumnya. T...

Awas, Berubah Jadi Zuster Ngesot

Laki-laki tua itu berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan menurun ke arah Kem...

Jalan Berliku Si Tukang Suntik Kodok

PERCAYALAH! Saya dulu adalah mantri yang suka nyuntik. Tapi nanti dulu. Saya ...

Seduluran Yang Sejati

Tak terasa wadah seduluran Konco Lawas Jawa Pos (CoWas JP) sudah berusia enam...

Mencium Titiek Puspa di Pematang Sawah

PERNAHKAH Anda mencium Titiek Puspa? Saya pernah. Lho kok bisa? Begini cerita...

Profesional, Eksklusif dan Rasa Takut (2-Habis)

SEBAGAI reporter magang, waktu itu 1982, awal JP manajemen anyar yang agresif...