Gus Firjaun Pelaksana Harian Ketua PW NU Jatim, Gantikan Gus Kikin yang Kini Jadi Ketua Umum PBNU
PERGANTIAN kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama pasca-Muktamar ke-35 berjalan tertib dan terukur. Terbukti dengan adanya penunjukan KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman sebagai Pelaksana Harian (Plh) Ketua PWNU Jawa Timur, menggantikan KH Abdul Hakim Mahfudz yang kini memegang amanah sebagai Ketua Umum PBNU.
Langkah ini bukan keputusan mendesak tanpa dasar. Ini merupakan implementasi ketat dari aturan rumah tangga organisasi yang telah dirancang untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan, di saat terjadi kekosongan jabatan antarwaktu.
Sekretaris PWNU Jatim, H. M. Faqih, menegaskan bahwa seluruh proses berlandaskan Bab XV Pasal 50 yang merujuk Pasal 49 ayat (1) ART NU. Mekanismenya sederhana namun kokoh: ketika seorang ketua berhalangan tetap — dalam hal ini karena terpilih di jabatan yang lebih tinggi di tingkat pusat — maka wakil ketua yang bersangkutan otomatis menjalankan fungsi kepemimpinan sebagai Pelaksana Harian.
Ini menunjukkan kedewasaan sistem organisasi NU: tidak bergantung pada sosok, melainkan pada ketentuan yang disepakati bersama.
Secara wewenang, delegasi yang diberikan mencakup operasional harian, administrasi, dan penandatanganan surat dinas, namun tidak mencakup penerbitan Surat Keputusan. Pembatasan ini penting dimaknai sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus penghormatan terhadap proses hukum organisasi yang sedang berjalan.
SK pengesahan resmi baru akan diterbitkan setelah susunan lengkap kepengurusan PBNU final. Dengan kata lain, NU tidak terburu-buru, namun juga tidak membiarkan roda organisasi berhenti berputar. Keseimbangan antara kelancaran kerja dan prosedur formal inilah yang menjadi ciri khas manajemen perubahan di NU.
Lantas, siapakah sosok yang kini memikul amanah tersebut? Gus Firjaun bukan orang asing di lingkungan warga Nahdliyin Jawa Timur. Ia lahir dari keluarga besar pesantren yang memiliki pengaruh luas. Ayahnya, KH Achmad Shiddiq, adalah mantan Rais Aam PBNU — posisi tertinggi kedua dalam struktur NU.
Darah ulama mengalir kuat dalam dirinya, namun ia tidak berdiam diri di menara gading. Ia memilih terjun langsung ke tengah masyarakat melalui jalur organisasi dan politik praktis.
Sejak puluhan tahun lalu, di pertengahan 1990-an, Gus Firjaun sudah aktif di barisan muda NU sebagai Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri. Di sanalah ia menempa kemampuan manajerial dan kepemimpinannya. Pengalaman ini semakin matang saat dipercaya menjadi Wakil Bupati Jember periode 2021–2025.
Di ranah pemerintahan, ia belajar bagaimana menerjemahkan nilai-nilai keagamaan ke dalam kebijakan publik yang menyentuh langsung kehidupan rakyat. Gabungan dua dunia ini — pesantren dan pemerintahan — menjadikannya sosok yang langka. Paham kitab kuning, namun juga paham birokrasi dan dinamika masyarakat modern.
Penunjukannya pun dinilai strategis. Jawa Timur adalah basis terbesar warga NU. Di sinilah akar organisasi tumbuh paling subur. Kehadiran sosok yang dikenal luas, memiliki kredibilitas keilmuan, serta pengalaman memimpin di tingkat kabupaten hingga provinsi, menjadi jaminan stabilitas di masa transisi ini.
Gus Firjaun tidak perlu memulai dari nol. Ia sudah memiliki jejaring, pemahaman kontekstual, dan kepercayaan dari berbagai elemen.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Ia harus menjaga momentum yang dibangun Gus Kikin selama memimpin PWNU Jatim, sekaligus menyusun langkah inovatif yang selaras dengan arah kebijakan pusat di bawah kepemimpinan baru. Kolaborasi antara PWNU Jatim dan PBNU di bawah Gus Kikin diharapkan tetap terjalin harmonis, meskipun keduanya kini menempati posisi yang berbeda. Di sinilah kelebihan sistem yang dimiliki NU: hubungan personal tetap terjaga, namun kewenangan organisasi berjalan sesuai jalur yang ditetapkan.
Pada akhirnya, transisi kepemimpinan ini mengirim pesan mendalam: organisasi yang sehat adalah organisasi yang tidak hancur ketika pemimpinnya pergi, melainkan memiliki mekanisme jelas untuk melahirkan penggantinya.
Gus Firjaun hadir bukan sebagai solusi darurat semata, melainkan sebagai pilihan yang matang — sosok yang telah lama ditempa di berbagai medan, siap melanjutkan estafet pengabdian untuk Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)