Gus Kikin: Sanad Keilmuan dan Persatuan adalah Jiwa Nahdlatul Ulama
SANAD keilmuan dan persatuan bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga pijakan strategis bagi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi tantangan zaman.
SANAD keilmuan dan persatuan bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga pijakan strategis bagi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi tantangan zaman.
Sanad adalah silsilah atau mata rantai urutan perawi (orang-orang) yang menyampaikan suatu riwayat, ilmu, atau hadis dari satu orang ke orang lain hingga sampai kepada sumber utamanya, yakni Nabi Muhammad SAW.
Melalui Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU di Gresik, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan, pentingnya menjaga sanad keilmuan yang bersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Menumbuhkan semangat persatuan sebagai fundasi utama penguatan organisasi dan umat Islam Indonesia.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Hadir di Puncak Harlah PKB, Momentum Kebangkitan dan Persatuan Bangsa
Pernyataan ini disampaikan saat Gus Kikin memberikan arahan kepada para peserta Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I, yang diselenggarakan oleh PCNU Kabupaten Gresik pada 22–26 Juli 2026.
Gus Kikin mengingatkan, Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari bukan hanya sebagai pendiri NU, beliau juga sosok pemersatu umat Islam Indonesia di tengah keberagaman.

Suasana Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU di Gresik. (FOTO: PC NU Kabupaten Gresik)
“Pada tahun 1942, tercatat sekitar 20.000 tokoh baik besar maupun kecil di Pulau Jawa merupakan santri. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sanad keilmuan yang diteruskan secara konsisten,” ujar Gus Kikin.
BACA JUGA: Telah Ditetapkan: Muktamar NU ke-35 Resmi Akan Digelar 1-5 Agustus 2026, Semakin Matang dan Mantap
Dalam konteks kekinian, Gus Kikin menyoroti munculnya berbagai paham baru yang berkembang dalam masyarakat. Ia mengingatkan bahwa tantangan utama bukan sekadar perbedaan, tapi bagaimana umat Islam menjaga ikatan keilmuan yang bersambung dengan Rasulullah SAW melalui sanad yang kuat.
“Sanad ini adalah ikhtiar agar ilmu yang kita pelajari tidak melenceng dari akar tradisi Islam yang otoritatif,” jelas Gus Kikin yang juga Pengasuh Ponpest Tebuireng Jombang ini.
Lebih jauh, Gus Kikin menekankan bahwa setiap mata rantai ilmu membawa keberkahan dan pahala. Terputusnya sanad berarti hilangnya kesinambungan perjuangan para ulama yang menjadi amal jariyah tanpa putus.
Pesantren Tebuireng, tempat Gus Kikin mengasuh, konsisten merawat sanad keilmuan melalui pengajaran kitab, tradisi pesantren, dan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Komitmen ini penting agar warisan ulama tetap hidup dan relevan menjawab tantangan zaman.
Ia juga menegaskan bahwa pembaruan dalam Islam tidak berarti harus memutus hubungan dengan tradisi. Sebaliknya, pembaruan yang sejati harus berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan para ulama.
“Jika pembaruan itu memutus sanad dan akar tradisi, maka identitas Nahdliyin dan keberkahan yang diwariskan justru hilang,” tegas cicit Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari ini.
Selain itu, Gus Kikin menyebut bahwa NU didirikan pada 1926 dengan semangat membangun persatuan umat Islam berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah, yang menyeimbangkan aspek lahir dan batin, kognitif dan afektif.
Dalam penutup pesannya, Gus Kikin berharap kader PMKNU mampu menjadi pemimpin yang tidak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Ia mengajak untuk terus membangun ukhuwah dengan ungkapan, “Wa’tashimu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu.” Berpegang teguhlah pada tali Allah bersama-sama dan janganlah bercerai berai.
Turut menjadi peserta MKNU I Jatim 1 di Kota Pudak Gresik ini,
Menteri Agama RI Prof Dr KH.Nasaruddin Umar selaku kader NU, Bendahara PBNU Gus Gudfan Arif Ghofur atau kerap disebut Gus Gudfan dan Prof Dr Muzaqi mantan Rektor UINSA Surabaya.
Jadi pernyataan Gus Kikin merefleksikan pentingnya tradisi sanad sebagai pilar utama dalam sistem keilmuan di NU. Sanad menjadi sumber legitimasi keilmuan sekaligus jembatan spiritual yang menghubungkan generasi sekarang dengan para ulama besar pendahulu.
Dengan terus memelihara sanad keilmuan, NU dapat menjaga autentisitas ajaran dan sekaligus menghadapi perubahan zaman dengan landasan kuat.
Semangat persatuan yang digaungkan Gus Kikin berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang sejak awal menjadi dasar berdirinya NU. Ini menjadi modal sosial penting mengingat pluralisme umat Islam di Indonesia.
Di era kekinian, ketika berbagai paham dan ideologi muncul, menjaga persatuan dan keberagaman menjadi tantangan sekaligus keniscayaan bagi organisasi keagamaan besar seperti NU.
Pendidikan kepemimpinan yang mengedepankan kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual serta sosial dapat mengokohkan posisi NU sebagai organisasi pembina umat yang adaptif namun berakar pada tradisi.
Hal ini menjadi penting dalam menghadapi tantangan zaman serta memastikan NU tetap relevan dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)