Perjalanan Menuju Internet 100 Mbps yang Menjangkau Lebih dari Separo Jumlah Penduduk Indonesia pada 2029
DI TENGAH derasnya arus transformasi digital global, Indonesia menunjukkan tekad kuat untuk tidak tertinggal. Sangat banyak desa-desa di Indonesia yang masih minim sinyal.
DI TENGAH derasnya arus transformasi digital global, Indonesia menunjukkan tekad kuat untuk tidak tertinggal. Sangat banyak desa-desa di Indonesia yang masih minim sinyal.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan kecepatan internet mobile broadband nasional dapat melesat hingga 100 Mbps (Megabit per detik) di akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tahun 2029.
Target ambisius ini bukan sekadar angka, tapi merupakan tonggak perkembangan teknologi yang diharapkan mampu mengubah wajah kehidupan masyarakat di berbagai pelosok Nusantara.
Meutya Hafid, Menteri Komdigi, berbicara penuh semangat di kantornya di Jakarta, mengurai strategi yang dijalankan pemerintah.
"Kita manfaatkan pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang baru saja dilelang. Operator seperti Telkomsel, Indosat Ooredo Hutchinson, serta XL Smart memiliki komitmen kuat memperluas jaringan 5G. Hingga menjangkau lebih dari setengah populasi dalam lima tahun ke depan," ujarnya.
Perjalanan menuju 100 Mbps ini tak hanya terkait soal kecepatan, tapi juga pemerataan. Selain 5G, operator juga diwajibkan mengembangkan infrastruktur 4G di 538 desa dan kelurahan yang selama ini sulit dijangkau sinyal sehat.
"Ini demi mengikis blank spot yang menghambat akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital masyarakat," jelas Meutya.
Inisiatif ini sejalan dengan program prioritas pemerintah seperti Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih yang berakar dari kebutuhan akses digital.
Mengintip ke lapangan, banyak desa dan wilayah yang selama ini masih harus berjuang dengan sinyal yang tak memadai.
Bayangkan anak-anak sekolah yang berjuang mengikuti pembelajaran daring dengan koneksi yang terputus-putus, atau pelaku UMKM yang kesulitan memasarkan produknya secara online. Investasi spektrum frekuensi yang dilakukan pemerintah adalah sinyal optimisme bagi mereka.
Namun, perjalanan ini juga menuntut pengawasan ketat dan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Meutya menegaskan, “Kami pantau terus komitmen para operator. Semua harus berjalan sesuai rencana agar masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” ungkap Meutya yang juga mantan reporter TV Nasonal swasta ini.
Selain frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang saat ini tengah digunakan, pemerintah sedang mempersiapkan pelelangan pita 900 MHz. Rencana ini berperan sebagai langkah lanjutan dalam memperkuat konektivitas nasional. Di sisi lain, kajian untuk pemanfaatan pita 3,5 GHz yang dikenal ideal bagi jaringan 5G berkapasitas tinggi pun terus dilakukan.
Mimpi Indonesia menjadi negeri yang terkoneksi dengan cepat dan merata bukanlah sekadar mimpi tanpa arah. Ini adalah upaya nyata yang menyentuh setiap lapisan masyarakat.
Saat gambaran Indonesia dengan internet 100 Mbps tercapai, pintu-pintu peluang ekonomi, pendidikan, dan layanan publik digital akan terbuka lebar, menyatukan masyarakat dalam era yang semakin serba digital.
Dalam perjalanan digital ini, setiap langkah yang diambil Komdigi dan seluruh pihak terkait adalah penegasan bahwa kemajuan teknologi harus mampu menolong masyarakat, bukan meninggalkannya.
Dengan tekad kuat dan strategi matang, Indonesia menatap masa depan digital yang cerah, di mana konektivitas menjadi jembatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)